Sabtu, 21 Juni 2014

CHEESECAKE, TEASET, AND CEREAL; CHEESECAKE 5



            “Tila, sudah ya ... Kita istirahat ya!” rayu Abi pada Atila yang asik berlari kesana kemari di atas pasir kecoklatan. Bukan karena dia letih, tapi pasir yang cukup tebal membuat bayi itu beberapa kali terjatuh. Abi takut Atila terluka.
            Atila yang mendengar itu malah tertawa, menunjukkan susunan giginya yang belum sempurna. Rayuan Abi dianggap sebagai ajakan untuk terus bermain.
            “Eh!” seru Atila diikuti tubuhnya yang limbung, lalu jatuh.
            Abi berhenti bernapas sesaat, kaget dan cemas. Bagaimana kalau ada batu di bawah tubuh Atila? Kalau tidak, potongan ranting mungkin? Itu akan membuat Atila terluka. Tapi, sesaat kemudian menghembuskan napas lega melihat Atila kembali tertawa. Bayi yang baru berusia tiga tahun itu mengerjainya.
            Tidak ingin dikerjai dua kali Abi bergerak cepat ke arah Atila dan menggendongnya. “Sudah, ya ... Kita berteduh dulu. Di sini panas. Nanti kamu demam.”
            Atila yang belum terlalu mengerti kalimat Abi merengek minta diturunkan. Dia masih ingin bermain. Namun Abi bertahan untuk tidak luluh melihat wajah memelas itu. ini demi kebaikan Atila juga.
            Dia membawa Atila duduk berteduh di bawah gazebo depan salah satu warung yang sengaja disediakan pemiliknya setelah memesan sebuah kelapa muda. Sengaja tidak meminta es. Dia tidak tahu apakah tubuh Atila bisa menanggulangi dingin es setelah sebelumnya berpanas-panasan. Panas dalam, lalu demam bisa saja terjadi.
            Atila yang awalnya masih merengek langsung sibuk di depan meja. Segera melupakan keinginan berpanas-panasan. Sekarang asik memukul-mukul permukaan meja dengan kedua telapak tangan layaknya menabuh gendang.
            Abi membiarkan Atila, namun tetap berjaga-jaga siapa tahu bayi itu bergerak tak terarah. Gazebo ini cukup tinggi bagi seorang bayi.
            “Anaknya aktif ya, Mba’!” seru pemilik warung beramah-tamah sembari meletakkan sebuah kelapa muda ke atas meja.
            Mata Atila langsung berpindah ke benda tersebut. Tangannya mulai terulur untuk menjangkau benda itu.
            “Iya, Bu,” jawab Abi tersenyum, sekaligus menggeser kelapa muda tadi jauh dari jangkauan Atila.
            Atila tidak menyerah. Setengah badannya sudah naik ke atas meja.
            “Usianya tiga tahun ya, Mba’?” tebak Ibu itu, ikut duduk di gazebo.
            Abi mengangguk. “Tiga tahun satu bulan.” Setidaknya itu yang Abdiel katakan waktu dia bertanya saat dalam perjalanan ke pantai ini.
            Tangannya meraih Atila yang hendak memutar ke bagian lebih dekat dengan kelapa muda tadi. Diletakkan bayi itu ke pangkuannya. Sebelah tangannya menahan tubuh Atila yang hendak berdiri kembali, sedangkan sebelah lagi menyendok daging kelapa muda dan menyuapkan benda itu ke mulut kecil bayi ini.
            Dengan gigi seadanya, Atila mengunyah daging kelapa muda itu sehingga menunjukkan mimik lucu. Ibu pemilik warung tertawa melihatnya.
            “Giginya belum banyak ya, Mba’!” komentar Ibu itu di sela tawa.
            “Iya nih, Bu. Baru enam di atas dan delapan di bawah,” respon Abi membenarkan. “Giginya agak terlambat tumbuh.”
           Ibu itu manggut-manggut. Dia menyapa Atila dengan bahasa jawa, “Namanya siapa?”
            Atila berhenti mengunyah. Mengamati Ibu itu, lalu menjawab, “Tila.”
            Abi sedikit terkejut mendengar Atila menjawab. Padahal dia butuh waktu hampir setengah jam untuk dekat dengan bayi ini. lalu butuh waktu dua jam untuk mendengarnya bicara. Dan selama satu jam dia bermain dengan Atila, bayi ini tidak begitu mengerti kalimatnya.
            Kemudian Abi menggerutu dalam hati mengutuku kebodohannya. Bisa jadi orang tua Atila merupakan orang jawa asli. Jadi anak ini tidak begitu mengerti Bahasa Indonesia.
            “Lagi!” seru Atila menyentuh tangan Abi.
            Abi tersadar. Langsung disendoknya lagi daging buah kelapa muda, kemudian menyuapkan pada Atila.
            “Wah, pintarnya!” Ibu pemilik warung terlihat kagum. Terus saja dia mengamati Atila. Mungkin akan duduk lama bersama mereka kalau tidak ada yang membeli.
            Abi memegang buah kelapa muda itu dengan kedua tangannya. Membiarkan Atila menyedot airnya saat Ibu itu pamit meninggalkan mereka. Kali ini tanpa bisa dicegah Atila menguasai sendok dan mulai mengaduk-aduk isinya, berusaha mengambil daging buah tersebut. Abi pasrah, membiarkan Atila bertindak sesuka hati karena kedua tangannya menumpu buah itu.
***

            Dari kejauhan, Abdiel yang baru selesai salat dzuhur tersenyum melihat kedekatan Abi dan Atila. Dia sengaja membawa Atila agar Abi merasa nyaman jalan dengannya karena tahu gadis itu memiliki kewaspadaan tinggi. Selain itu juga ingin tahu seberapa tinggi level kemampuan Abi menangani seorang bayi.
            Alasan terakhir itu yang membawa mereka ke ini. Salah satu pantai yang ada di Wonosari, Yogyakarta. Butuh waktu tempuh kurang lebih dua jam untuk sampai ke lokasi. Dengan begitu mereka tidak bisa buru-buru mengembalikan Atila ke kedua orang tuanya jika mulai cerewet.
            Sejauh ini Abi bisa menangani Atila dengan baik. Tindakannya menunjukkan bahwa sudah terbiasa mengasuh bayi. Layak untuk dipertimbangkan lebih serius.
            Abdiel tersenyum geli mengingat awal pertemuan mereka 10 hari lalu. Tidak pernah terpikirkan sama sekali hari itu dia akan mengucapkan ajakan menikah pada gadis yang baru dikenal. Padahal dia berada di cafe hanya ingin minum kopi. Bersantai melupakan suntuk sementara waktu.
            Usia 35 menjadi usia yang berat jika Ibu kita mulai gencar menanyakan pernikahan. Belum lagi rasa iri merasuk melihat orang sekitar tampak bahagia berkumpul dengan anak dan istri. Empat dari lima sahabatnya juga sudah berumah tangga. Hanya Andien dan dia yang masih betah sendiri. Jadi tidak perlu repot memupuk, keinginan membangun rumah tangga itu tumbuh subur bagai jamur di tanah basah.
            Sempat terpikir untuk berkompromi dengan Andien. Tidak ada salahnya mencoba mendiskusikan hal ini pada sahabat yang juga masih belum menemukan kekasih hati. Mereka sudah saling mengenal sejak lama. Mana tahu kecocokan mereka dalam bersahabat juga sama cocoknya kalau menjadi suami-istri. Namun belum sempat niat itu terlaksana takdir itu pun datang.
            Ketika menyesap kopi kesekian, dua gadis masuk ke dalam cafe dan duduk tepat di meja belakangnya. Tanpa memikirkan sekeliling mereka berbicara masalah pribadi dengan lancar. Dirinya yang tidak berniat tahu urusan orang lain secara tidak sengaja ikut masuk mendengarkan pembicaraan.
            Tidak disangka permasalahnya dengan salah satu gadis itu sama. Tentang menjalin hubungan dalam sebuah pernikahan.
Kalimat-kalimat yang mengalir lancar keluar dari mulut gadis itu membuatnya tertarik. Rasa penasaran pun mendesaknya. Maka, saat teman gadis itu pergi tanpa bisa mengendalikan diri dia menengok kebelakang. Ternyata gadis itu sedang melamun. Wajah melamun itu sangat menarik. Memaksanya bergerak pindah. Duduk di kursi kosong yang tadi di pakai oleh teman gadis itu. dan akhirnya pembicaraan mengalir begitu saja.
Gadis itu, Abi, bukanlah wanita tercantik yang pernah dia lihat. Cantik itu sangat relatif. Namun ada sesuatu dalam diri Abi yang menariknya bagai magnet beda kutub. Membuatnya ingin mengenal Abi lebih jauh lagi.
Ajakan menikah itu pun terucap. Bukan sebuah gurauan, melainkan penawaran. Jika hari itu Abi menolak, masih ada Andien yang bisa diajak bekerjasama. Dan beruntung sekali Abi tidak menolak sungguh-sungguh, walau tidak menerima juga.
Lalu disinilah mereka. Berusaha saling mengenal secara singkat dengan trik-trik tertentu yang mungkin tidak pernah terikirkan oleh orang yang berpacaran. Mencari kecocokan di sela waktu yang sedikit. Berharap tidak akan sia-sia sehingga mampu memberi keputusan yang diinginkan, belajar mencintai dalam sebuah ikatan pernikahan.
***

            Abdiel mendapat sebuah senyuman saat melewati Abi. Reflek dia membalas senyuman itu.
“Tidak memesan yang lain?” tanyanya ketika sudah duduk di gazebo.
            “Belum,” sahut Abi sembari meletakkan kembali buah kelapa muda ke atas meja.
            Atila tidak melepaskan tangannya dari sendok sehingga secara otomatis berdiri. Dengan sebelah tangan bertumpu pada meja, dia kembali asik bermain dengan sendok dan air kelapa muda.
            “Aa’ mau pesan makanan atau minuman?” tanya Abi. “Biar sekalian kupesankan sebelum ke Masjid.”
            Abdiel terlihat berpikir. Matanya berusaha membaca menu yang tertulis jauh di warung. Tak lama dia menyerah. Tulisan itu terlalu kecil sehingga tampak seperti coretan tanpa makna.
            “Ada soto ayam, mie instant rebus atau goreng, nasi goreng, nasi rames ...” Abi membacakan menu tersebut satu per satu. “Lalu ada es kelapa muda, teh panas atau dingin, jeruk panas atau dingin, coffeemix, soda gembira, cappuccino...” Seringaian kecil terlihat di wajahnya selesai membaca.
            Abdiel meringis, tahu Abi mengejek penglihatannya yang memang kurang bagus. “Apa itu akan mengurangi nilaiku sebagai calon suami yang potensial?”
            Abi menggedikkan bahu. “Jadi sebenarnya kamu menggunakan kacamata?”
            “Seharusnya,” jawab Abdiel, sedangkan tangan lelaki ini menarik tangan Atila yang sudah masuk ke dalam buah kelapa muda  dan mengacak air kelapa hingga bajunya basah. “Tapi hanya kugunakan saat membaca buku atau duduk di depan layar komputer dan televisi.”
            “Sejujurnya lelaki berkacamata itu menarik,” ujar Abi saat Abdiel hendak mengambil handuk kecil di dalam tas khusus milik Atila.
            Tangan lelaki itu berhenti. Menoleh pada Abi dan berkata dengan nada bercanda, “Aku akan menggunakannya setiap bertemu denganmu.”
            Abi mendengus geli mendengar candaan Abdiel. “Jadi mau pesan apa?”
            “Soto ayam dan es cappuccino,” jawab Abdiel, disela kesibukan mengeringkan tangan dan baju Atila yang basah karena air kelapa muda.
            Terdengar kata “oke” sebelum Abi berbalik menuju warung. Setelah terlihat bercakap-cakap sebentar dengan Ibu pemilik warung, dia pergi menuju masjid untuk salat dzuhur.
***

            Abi tidak menemukan Abdiel dan Atila di gazebo ketika kembali dari Masjid. Mata Abi menyapu sekeliling, mencari jejak mereka. Tidak ada di tepi pantai. Sekarang hampir jam satu siang. Matahari masih bersinar terik, jadi wajar kalau mereka tidak di sana. Namun di warung juga tidak ada.
            Makanan Abdiel masih tersisa setengah. Minumannya juga masih utuh. Abi mencoba mengamati sekeliling dengan teliti sekali lagi.
            Sosok itu tertangkap sedang berdiri di depan toilet. Bersandar pada bagian dinding toilet yang bersih dengan tangan menyilang di depan dada. Pose yang terlalu keren untuk berada di sana.
            “Atila mendapat panggilan darurat,” jelas Abdiel ketika Abi mendekat dengan cengiran geli.
            “Darurat standar atau sangat darurat?” tanya Abi, sekarang sudah berdiri di samping Abdiel. “Oh … Sangat darurat,” ujarnya saat mencium bau yang kurang menyenangkan dari dalam toilet tempat Atila berada dengan pintu yang setengah terbuka.
            “Dia takut kalau pintunya di tutup.” Abdiel memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku dan sebelahnya lagi mengusap kepala.
            Abi terpesona beberapa saat. Darahnya berdesir. Segera dia memalingkan muka ke arah lain. Pose itu berbahaya bagi matanya. Seperti melihat seorang model pria yang sedang melakukan pemotretan.
            “Aa’ kembali saja ke gazebo,” tawar Abi berbicara lagi, berusaha mengalihkan perhatiannya sendiri. “Lanjutkan makannya ...” ucapannya menggantung. Teringat dengan apa yang Abdiel lakukan di sini, “... kalau masih bisa.”
            Abdiel menarik kedua alisnya ke atas. Kedua tangannya berada di dalam saku. Senyum miring terlihat di sana. “Tentu saja masih bisa. Aku sudah terbiasa menghadapi ini.” Matanya menatap Abi beberapa detik. “Apa kamu yakin mau menanganinya?”
            Mendengar nada ragu dalam pertanyaan Abdiel mengganggu ego Abi. Menaikkan dagu sedikit, dia berkata dengan sombong, “Aku juga sudah terbiasa dengan ini.”
            Mulut Abdiel membuat lingkaran karena menyebut “o” tanpa suara. Kemudian melihat ragu ke pintu toilet yang setengah terbuka sebelum berkata, “Oke ... Aku kembali ke gazebo.”
            Abi memberikan senyum setengah hati mengantar langkah Abdiel. Dia kesal mendapati keraguan di wajah lelaki itu. Jelas sekali Abdiel mengira dia memaksakan diri. Padahal dia memang sudah terbiasa. Anak kakaknya tidak ingin ditangani orang lain kalau dia ada.
            Sepuluh menit kemudian, Abi dan Atila menyusul Abdiel kembali ke gazebo. Makanan lelaki itu sudah tandas. Sekarang dia sedang menikmati pemandangan sambil sesekali menyeruput es cappucinno.
            “Apa Atila terbiasa kamu bawa pergi?” tanya Abi penasaran karena sudah lewat tengah hari bayi itu tidak rewel sama sekali.
            Abi membantu Atila naik ke gazebo sebelum dia sendiri ikut duduk. Atila langsung bergerak mendekati Abdiel dan duduk di pangkuan lelaki itu.
            “Lebih tepatnya sering kuculik dari orang tuanya,” jawab Abdiel. “Ummi dan aku hanya tinggal berdua. Kadang beliau kesepian di rumah, jadi Atila sering kupinjam untuk meramaikan suasana.”
            Tangan Abdiel mengusap kepala Atila. Atila sendiri bersandar nyaman pada lelaki itu. Sepoi angin yang bertiup di hari yang terik perlahan merayu bayi ini untuk terpejam.
            “Berapa usia beliau?” tanya Abi.
            Matanya melirik ke warung. Lehernya kering. Dia kehausan.
            “Lima puluh enam tahun,” jawab Abdiel sembari menggeser gelasnya ke depan Abi.
            Abi meluruskan punggung, kaget dengan tindakan Abdiel. Di otaknya mulai bergema kalimat yang berawal dengan “apa”. Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus minum ini? Apa sopan kalau tidak kuminum? Apa tidak apa-apa jika kuminum?
            Butuh 30 detik bagi Abi untuk mengambil keputusan. Dia menggeser kembali gelas itu ke depan Abdiel. “Thanks, tapi aku pesan minuman yang lain saja.”
            Abi segera bergerak menuju warung. Ada rasa bersalah di sudut hatinya. Ada takut juga di sana. Bagaimana kalau Abdiel tersinggung dengan tindakannya? Tapi itu keputusan yang tepat. Dia masih harus terus waspada. Mereka belum terlalu kenal untuk berbagi minuman di gelas yang sama.
           Abdiel sendiri memandangi punggung Abi. Sedikit tersinggung, namun dia mengerti. Terlebih dia sadar kalau Abi wanita yang sangat berhati-hati. Lagipula itu hanya tindakan reflek saat melihat Abi tampak kehausan.
            Abi kembali dengan membawa segelasas es teh saat Abdiel sedang memperbaiki posisi Atila agar tidur lebih nyaman. Namun belum sempat dia menyerut es teh dengan nyaman, tiba-tiba Abdiel bertanya, “Mau bertemu Ibuku minggu depan?”
            Abi langsung membatu. Tangannya yang memegang gelas mengambang di udara. Mampus!
***
Bersambung....
           


           







           


CHEESECAKE, TEASET, AND CEREAL; CHEESECAKE 4



Pagi minggu yang cerah Abi sudah sangat rapi memakai terusan hitam, kerudung warna abu-abu gelap, dan  kemeja besar warna kuning. Dia duduk gelisah di depan televisi. Sesekali melirik jam tangan, lalu melihat pintu depan, kemudian kembali menonton. Begitu hingga beberapa kali.
“Kalau begitu terus kamu bisa pusing kepala, Bi!” tegur Naomi yang juga sudah rapi.
Abi mesem. “Sudah mau pergi? Bukankah biasanya jam 10? Ini baru jam 8.30.”                
“Iya, nih! Ada acara di gereja, jadi harus datang lebih pagi,” jawab Naomi sambil memasang sandal tumit tingginya. “Thanks sarapannya, Bi. Nasi gorengnya enak.”
Abi mengangguk sembari tersenyum.
“Ah, iya! Sukses, ya! Walau kecewa kita tidak bisa jadi saudara ipar, tapi aku senang kamu punya pilihan sendiri.”
Abi sudah menceritakan tentang Abdiel pada Naomi dan Vita. Juga tentang rencana Abdiel ingin membawanya pergi minggu ini setelah minggu lalu mereka berkenalan dengan benar.
Abdiel sempat membuatnya tersentuh juga bingung. Lelaki itu tidak meminta atau memberi nomor telepon yang bisa dihubungi. Tidak juga memberi atau meminta alamat email. Abdiel hanya mengantar—lebih tepat mengiring—nya sampai kontrakan hari itu. Kemudian berkata akan menjemput minggu pagi berikutnya—hari ini.
Namun, ada satu kata Naomi yang mengganggunya sekarang. “Saudara ipar?”
“Iya, saudara ipar.”
Abi tidak bisa menutupi ketidakpahamannya. “Maksudmu?”
“Arlon si kandidat terakhir itu kakak Suni,” jelas Naomi semangat. “Kalau kamu berubah pikiran katakan saja. Aku akan senang sekali jika kita benar-benar menjadi saudara ipar.”
Abi senyum setengah hati. Berubah pikiran untuk lelaki sok sibuk seperti Arlon? Terima kasih, tapi dia tidak berminat. Apalagi tahu itu kakaknya si Abusiver. Pantas saja Abi merasa wajah Arlon tidak asing. Ternyata mirip Suni.
“Tidak. Tapi terima kasih sudah membantuku mencarikan kandidat sebulan ini,” ucap Abi tulus.
“Itu gunanya sahabat, ‘kan?” Naomi langsung berdiri. “Aku pergi dulu,” ucapnya sembari mendekati Abi dan menempelkan pipinya kiri dan kanan. “Semoga hari ini menyenangkan.”
“Kamu juga,” balas Abi. “Hati-hati!”
“Oke!” Naomi melambaikan tangannya sebelum menghilang di balik tembok pembatas ruang tengah dan ruang tamu.
Abi menghela napas. Melirik jam tangannya lagi sebelum fokus pada siaran berita di salah satu channel televisi nasional. Ini terasa lama dan menjengkelkan.
Nggg, Bi!” tiba-tiba kepala Naomi menyembul dari balik dinding pembatas.
“Ada yang tertinggal?” tanya Abi heran melihat sahabatnya ini berbalik.
“Tidak, tapi ...”
“Hai!” sapa seseorang dari belakang Naomi.
“Aa’!” Abi kaget lebih kepada penampilan Abdiel yang memukau dengan sweater rajut gradasi warna coklat muda ke gelap dan celana jeans hitam.
“Yak, begitulah! Jemputanmu sudah datang. Aku ingin memberitahukan itu tadi,” ujar Naomi menyadarkan Abi dari keterpanaan. “Aku pergi!”
Sekali lagi Naomi pamit setelah memberikan komentar lewat bisikan jauh—yang membuat Abi memutar bola mata—berbunyi, “Dia tampan!”
Abdiel berdehem mencuri perhatian Abi. “Aku pikir akan menunggumu bangun dan mandi terlebih dulu, ternyata kamu sudah sangat siap.”
Abi mencibir. “Salah siapa yang hanya menyebut kata pagi tanpa jam yang pasti?”
Lelaki ini tersenyum sambil menatap Abi dari jauh. “ Aku tidak tahu bahwa kamu begitu antusias dengan ajakan pergi itu. Dan aku senang mengetahuinya.”
“Ini bukan karena antusias!” sanggah Abi berbohong. Dia malu mengakui kebenaran kalimat Abdiel. “Aku memang terbiasa bangun pagi, mandi, dan berpakaian rapi meski hari minggu sekalipun.”
“Benarkah?” Abdiel sengaja memperdengarkan nada takpercaya. “Itu kebiasaan yang baik.”
Abi memutar bola mata mendengar sindiran halus itu. “Apa kamu mau berdiri di sana terus?”
Sejak tadi Abdiel belum beranjak dari jalan masuk antara ruang tengah dan ruang tamu. “Apa aku boleh masuk?”
“Tidak,” jawab Abi setelah berpikir cukup lama. Mereka bertemu baru dua kali. Meski sudah berkenalan bukan berarti dia mempercayai Abdiel. Mempersilahkan Abdiel masuk ke ruang tengah dan ikut menonton televisi bukan pilihan yang baik. Terlebih mereka hanya berdua. Vita sudah berangkat kerja sejak pukul tujuh. “Lebih baik kita langsung pergi.”
Gadis ini bergerak memeriksa pintu dan jendela. Kemudian memeriksa isi tasnya sebelum meraih kunci sepeda motor di atas meja. Dia siap.
“Sepertinya kamu tidak perlu kunci itu hari ini,” kata Abdiel sambil menunjuk kunci yang Abi pegang. “Aku tidak rela jika harus seperti kemarin. Membiarkanmu membawa sepeda motor dan aku hanya bisa mengekor dari belakang.”
Abi langsung bersikap waspada. “Terima kasih, tapi aku merasa lebih aman berkendara sendiri.”
“Sekarang sedang musim hujan. Bagaimana kalau tiba-tiba turun hujan?” Abdiel berusaha memaksa.
“Aku bawa mantel,” jawab Abi.
“Kamu membuatku seperti lelaki yang tidak bertanggung jawab kalau membiarkanmu melakukan itu.”
“Maaf, tapi aku harus.”
“Apa yang kamu khawatirkan?” tanya Abdiel yang melihat kegusaran Abi.
“Kita ...” Abi ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
“Kita?”
Gadis ini menghela napas berat. “Maaf, aku belum percaya denganmu. Kita baru kenal. Mana tahu kamu akan membawaku ke pelabuhan dan menjualku ke luar negeri. Kamu hanya mengajakku pergi tanpa menyebutkan tempat sama sekali.”
Abdiel terpaku sebentar sebelum tergelak.
“Tidak lucu!” ucap Abi langsung mencebikkan bibir.
Sorry,” Abdiel berusaha menghentikan tawa. “Aku hanya berpikir kerja otak kirimu menakjubkan. Minggu kemarin mencurigaiku sebagai penderita AIDS dan hiper-seks. Sekarang sebagai penjual manusia. Analisis dan perkiraan. Logikamu aktif sekali.”
“Kamu menyindirku!” ujar Abi taksenang. “Aku sadar kalau mudah cemas dan sering menaruh curiga pada orang lain, tapi kamu tidak perlu menyindir.”
“No! Tidak Abi, aku memuji.”
Abi berdesah takpercaya.
“Oke, sorry kalau kalimatku melukai egomu. Aku tidak bermaksud begitu,” Abdiel berusaha memperbaiki suasana. “Kamu tetap pergi denganku. Tenang saja, kita tidak berdua. Jadi, kamu bisa bernapas lega.”
Abi menjengkit. “Kamu membawa teman untuk menculikku?!”
Abdiel menepuk dahinya frustasi. Tangannya mengacak rambut, bingung.
“Ayo keluar! Kuperkenalkan kalian agar kamu merasa aman,” putus Abdiel akhirnya setelah berpikir sembari memberi kode pada Abi agar ikut keluar.
Abi mengekor hati-hati. Berhenti di teras ketika takbisa melihat siapapun yang ada di dalam mobil. Dia baru menyadari mobil Abdiel menggunakan kaca gelap.
Dahinya berkerut. Memangnya masih boleh menggunakan kaca gelap untuk mobil di Indonesia? Pikiran-pikiran negatif kembali berkumpul dalam otak.
“Kemari!” panggil Abdiel.
“A-aku di sini saja,” tolak Abi.
“C’mon, Abi!”
Abi menggeleng tegas.
Abdiel terlihat kecewa, tapi dia tidak memaksa lagi. Tangannya membuka pintu penumpang, membuat Abi waspada dengan memasang kuda-kuda aneh. Kemudian dengan kedua tangannya menarik sesuatu dari dalam mobil. Abi semakin siaga. Dan ....
Abi membelalak mendapati apa yang ada di gendongan Abdiel sekarang. Telunjuknya mengacung ke arah Abdiel. “Kamu seorang penculik bayi?!”
Tertular kebiasaan Abi, Abdiel memutar bola mata. Dia tidak mengerti otak Abi terus saja berpikir kreatif memberikan tuduhan.
Pelan dia membawa bayi laki-laki itu mendekat ke tempat Abi berdiri. Sedangkan Abi mundur selangkah ketika Abdiel dan si bayi sudah berhenti dihadapannya. Dia tidak ingin dikira sebagai komplotan penculik.
“Atila, salim tangan tante!” ujar Abdiel bicara pada bayi tersebut.
Si bayi menatap wajah Abi yang kebingungan dengan malas. Lalu memalingkan wajah, meletakkan pipinya di bahu Abdiel. Kedua tangannya memeluk leher lelaki itu.
Sebagai wanita yang ingin menikah dan penyuka bayi, Abi merasa kecewa melihat bayi yang dipanggil Atila itu berpaling. Pantang baginya dipandang musuh oleh seorang bayi. Seketika kewaspadaannya langsung menghilang.
“Hai, Atila!” sapa Abi bergerak ke depan pandangan Atila.
Abi sengaja tidak menyentuh Atila. Menurut pengalaman merawat Qori, anak kakaknya. Bayi akan lebih dulu menyapa dengan sentuhan kalau dia sudah merasa aman. Jika kita gegabah menyentuhnya malah membuat bayi semakin waspada dan menjauh.
Atila memandang Abi lagi sebelum menyembunyikan wajahnya di bahu Abdiel. Beberapa detik kemudian mengintip dan mendapati wajah Abi yang tersenyum. Lalu, menyembunyikan wajahnya lagi.
“Sepertinya dia malu,” ujar Abdiel melihat tingkah Atila. “Atau mungkin karena baru bangun tidur jadi kurang bersemangat.”
Abi mengangguk. “Mau duduk dulu?”
“Kami boleh masuk?” tanya Abdiel memastikan.
“Tidak,” geleng Abi. “Duduk di situ saja.” Abi menunjuk kursi yang ada di teras.
Tanpa mengatakan apapun Abdiel langsung menuju ke sana. Dia mengambil posisi yang nyaman sebelum mendudukkan Atila dipangkuannya.
“Jadi, siapa Atila?” tanya Abi mengutarakan rasa penasaran. “Anakmu?”
“Menurutmu?” tanya Abdiel balik sembari menyeringai. Dia ingin sedikit bermain-main dengan rasa penasaran gadis ini.
Abi mengamati wajah Atila yang sedang bermain dengan jari telunjuk Abdiel. “Tidak mirip denganmu. Lebih kepada wajah pribumi. Tapi siapa tahu? Bisa jadi wajah Atila mirip istrimu.”
Abdiel tersenyum miring. “Iya, dia mirip ibunya.”
Abi mengamati wajah Abdiel takyakin. “Jadi benar Atila anakmu?”
“Bisa dikatakan begitu,” jawab Abdiel santai sambil mengusap kepala Atila yang berkeringat.
Hati Abi mencelos. Kekecewaan tumbuh di dalamnya. “Mana ... ibunya?”
“Sedang pergi,” lagi-lagi Abdiel menjawab dengan santai. Malah terkesan sibuk berusaha mendengarkan celoteh Atila yang seperti bisikan.
Abi menelan ludah membasahi kerongkongannya yang kering.  Ada nyeri di sana, di ulu hati. Abdiel ternyata sudah menikah dan punya anak. Lalu apa maksud tawaran pernikahan itu?
“Ngg ... Aku ... Akan kubuatkan teh!” seru Abi langsung berdiri cepat. Dia harus masuk ke dalam. Dirinya butuh tempat untuk menstabilkan emosi.
Cepat Abdiel menangkap sebelah lengan Abi yang tertutup tangan kemeja. “Tidak usah. Lebih baik kita segera pergi. Aku berjanji pada Ibu dan Ayah Atila untuk membawa anak mereka jalan-jalan.”
Abi terpaku berusaha mencerna ucapan Abdiel. Kemudian memutar tubuhnya menghadap lelaki itu. mulutnya mengatup rapat. Rahangnya tercetak jelas.
“Aku tidak berbohong,” ucap Abdiel sebelum Abi meledak. “Atila memang anakku. Anak angkat.”
Abi masih diam. Matanya garang menatap Abdiel. Tapi rengekan Atila menyiram emosi gadis ini. dia menarik napas dalam dan memejamkan mata. Lalu perlahan menghembuskannya.
Dia tidak boleh marah-marah di depan seorang bayi. Nasehat kakaknya yang mengatakan bahwa perasaan para bayi masih lembut dan sensitif terngiang-ngiang. Sejatinya gadis ini tidak ingin menjadi penyebab ketakutan bagi salah satu dari mereka.
“Baiklah, aku kunci pintu dulu.”
Abi menuju pintu dan menguncinya. Semua sudah beres kecuali satu masalah, Atila. Bayi itu belum mau menyentuh Abi sama sekali.
“Apa kamu akan memangku Atila sambil menyetir?” tanya Abi.
Abdiel menggeleng. “Coba kamu ambil dia dariku.”
Abi langsung mengulurkan kedua tangannya ke depan Atila. “Atila,” panggilnya, “ayo sama tante.”
Atila menatap tangan Abi. Bayi iti terlihat ragu. Lalu melirik pada Abdiel. Abdiel tersenyum dan mengangguk. Melihat itu Atila perlahan menaikkan tangannya, minta diambil.
Senyum senang terlihat di wajah Abi. Tanpa menunggu lagi diambilnya Atila ke dalam gendongan. Tangan bayi itu melingkar erat di lehernya. Abi langsung mengelus punggung Atila. Menyampaikan pesan bahwa bayi itu akan aman dan nyaman bersamanya.
Sepertinya Atila menerima maksud Abi. Bayi itu mulai rileks sekarang. Kepalanya pun mulai bersandar nyaman di bahu Abi.
“Kamu sudah seperti seorang ibu,” komentar Abdiel saat mereka berjalan menuju mobil.
“Aku memang calon ibu,” balas Abi setengah tertawa.
“Ya,” Abdiel membukakan pintu mobil untuk Abi. “Calon ibu anak-anakku.”
Abi naik ke dalam mobil secara hati-hati dengan Atila yang tetap dalam gendongannya. Kemudian duduk nyaman di samping kursi pengemudi. “Om-om yang terlalu percaya diri.”
Abdiel nyengir jail mendengar kalimat itu. Sebelum menutup pintu dia berkata, “Dan kamu suka om-om itu.”
Abi langsung memutar bola mata. Namun sebuah senyuman tidak bisa ditutupi muncul di wajah itu.
***
Bersambung....










CHEESECAKE, TEASET, AND CEREAL; CHEESECAKE 2



Abi duduk di sofa ruang tengah kontrakan sambil memandangi kartu nama Abdiel. Pulang dari cafe hanya salat Ashar sebentar lalu melakukan hal itu sampai saat ini. Bahkan masih memakai t-shirt putih, kemeja hijau besar, dan hijab berwarna hijau kotor yang sejak pagi dipakainya.
Matanya tak lepas dari benda persegipanjang itu sampai terdengar makian seseorang yang semakin lama semakin dekat. “Sialan!” ulang suara itu lagi bersamaan dengan munculnya sosok Vita yang terlihat kusut. T-shirt hitam kebesaran yang berantakan, rambut pendek mencuat, dan jeans belel penuh oli semakin menambah kusut penampilan gadis ini. “Dimana-mana yang namanya lelaki itu selalu bikin sial!”
Abi yang merasa terganggu melemparkan delikan terbaik. Namun Vita takpeduli sama sekali. Dia malah menghempaskan tubuhnya ke sofa samping Abi.
Taklama Vita memberikan tatapan meneliti pada Abi yang kembali sibuk menatap kartu nama ditangannya. Dia penasaran kartu nama siapa yang mampu membuat manusia cerewet seperti Abi menjadi bungkam.
“Apa itu?” tanya Vita seraya merampas kartu itu dari tangan Abi.
Abi melotot, “Vita, kembalikan!”
Tangannya berusaha merebut kembali barang itu dari tangan Vita. Tapi, tangkas Vita berusaha menghindar sambil berusaha membaca tulisan di sana.
“Abdiel,” bacanya keras, disusul tatapan mencemooh. “Lelaki.”
Kesempatan itu digunakan Abi mendapatkan kembali kartu nama Abdiel. Langsung dimasukkan ke dalam saku ketika kartu itu ditangannya.
“Kamu masih mengikuti ide konyol Naomi?” tanya Vita takpercaya.
Delikan sadis kembali diberikan Abi. Sejak awal Vita memang tidak setuju dengan ide Naomi yang berniat memperkenalkannya dengan beberapa lelaki. “Cerewet!”
Vita tergelak mengejek, “Berapa usiamu, Abi?”
“Ini bukan masalah usia!” sentak Abi gemas. “Ini tentang ketenangan jiwa,” lanjutnya. “Lagipula itu bukan kartu nama dari teman Naomi.”
“Cih! Gayanya ketenangan jiwa,” cela Vita. “Dimana-mana lelaki itu pembawa sial.”
“Memangnya tahu apa kamu tentang lelaki?” tanya Abi sarkastis.
Wajah Vita menegang, membuat Abi menyadari kekasaran kalimatnya. “Maaf Vita, aku ...,”
See! Lelaki itu pembawa sial. Hanya karena lelaki kamu bisa mengucapkan hal seperti itu padaku,” potong Vita. “Tadi seorang lelaki merepotkanku. Hampir membuatku dipecat. Sekarang lelaki membuat sahabatku berkata kasar.”
Vita menghentakkan kaki, melangkah menuju kamarnya. Di dalam otaknya kalimat “lelaki itu pembawa sial” bergema.
“Vita maafkan aku!” kejar Abi. “Aku tidak bermaksud mengatakan itu.”
Vita menghembuskan nafas keras sekaligus mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya. Kamar yang lebih berantakan dari kamar seorang lelaki tidak membuatnya terganggu. Dia menuju jendela, menghisap rokok itu dalam setelah dinyalakan. Mengharap sedikit ketenangan.
“Vit!” panggil Abi hati-hati dari depan pintu kamar yang terbuka.
Dia tidak bermaksud membuat Vita tersinggung. Kalimat tadi keluar spontan dari mulutnya.
“Sudahlah!” Vita mengusap wajahnya. “Aku juga minta maaf. Emosiku sedang tidak stabil.”
Abi diam, memperhatikan kondisi Vita. “Jadi, kamu hampir dipecat?”
Kepulan asap keluar sebelum Vita mengangguk, “Aku terlambat kerja karena menolong seorang lelaki yang kecelakaan.”
“Itu bukan alasan untuk dipecat, ‘kan?” alis Abi hampir bertaut heran. Dia berjalan ke dalam kamar, lalu duduk di kursi dekat jendela. “Apalagi kamu salah satu montir andalan Dealer tersebut.”
Vita mengangguk, “Seharusnya. Kalau pacaramu bukan boss disitu yang cemburu karena kamu menolong seorang lelaki, lalu menungguinya sebentar sehingga terlambat kerja.”
Tanpa sadar mulut Abi terbuka, “Pacar? Kamu ... dan boss-mu?”
Vita menyeringai, “Iya.”
“Kamu sudah kembali normal?” pertanyaan itu yang terlintas di otak Abi.
“Mana mungkin!” sanggah Vita cepat. “Lelaki itu pembawa sial. Aku tidak berminat berdekatan dengan mereka, apalagi pacaran.”
“Terus boss-mu?”
“Tentu saja perempuan.”
“Bagaimana bisa?” Abi terbengong takjub.
Mengetahui cita-cita Vita sebagai montir—kemudian gadis itu benar-benar menjadi montir—saja sudah membuat Abi takjub. Sekarang mendengar seorang wanita menjadi boss cabang salah satu dealer sepeda motor terkenal di Indonesia. Dunia saat ini sudah menjadi lahan pertempuran lelaki dan perempuan.
“Tentu saja bisa. Kalau tidak, bagaimana kami bisa pacaran?” Vita melengos, dan bergerak keluar kamar setelah menekan ujung rokok ke dalam asbak hingga padam.
Abi jadi penasaran, “Mana fotonya? Sini! Aku mau lihat.”
Dia mengikuti Vita yang menuju dapur. Ingin membuktikan kalau wanita itu sama gagahnya seperti Vita.
“Iuhh!” Abi bergidik ngeri melihat Vita menuang sereal ke dalam mangkuk berisi susu. “Mengapa harus sereal, sih? Sereal itu sarapan, bukan untuk makan malam.”
“Aku lapar,” jawab Vita sekenanya.
“Di dalam kulkas masih ada cheesecake. Daging sapi dan beberapa sayuran juga. Nasi pun masih di ricecooker.
“Ribet,” respon Vita malas, mulai menyuap serealnya.
Abi geleng-geleng kepala. Entah bagaimana mulanya, Vita dan sereal seperti pasangan yang sulit dipisahkan. Dimana ada Vita disitu ada sekotak sereal dan susu cair. Bukankah ada makanan yang lebih enak dari sereal yang bisa dijadikan sebagai favorit?
“Mana foto boss-mu itu? Tunjukkan padaku!” ujar Abi sembari duduk di kursi makan depan Vita.
“Bukannya tidak adil disaat kamu melarang sekedar membaca kartu nama, tapi malah memaksa untuk melihat foto pacarku?”
“Ayolah Vita!” rayu Abi. “Lagipula kamu sudah sempat membacanya.”
Vita memutar bola mata, namun kemudian tangannya bergerak mengeluarkan smartphone dari saku. Mengutak-atiknya sebentar sebelum memberikan pada Abi.
Abi menyambar smartphone itu cepat. Melihat ke layar yang di dalamnya terlihat foto seorang perempuan cantik. Pupilnya melebar takpercaya, “Kamu yakin kalau wanita ini penyuka sesama?”
“Tentu saja! Kalau tidak bagaimana mungkin kami pacaran,” jawab Vita sebal dengan pertanyaan Abi.
“Tapi dia begitu ‘wanita’. Tersentuh makeup dan perawatan,” Abi masih kurang yakin.
Vita berhenti menyuap sereal, “Ada masalah dengan makeup dan perawatan?”
“Naomi mengatakan kamu seperti sekarang ini,” mata Abi menatap Vita—yang kembali menyuap sereal—penuh arti ketika mengatakan itu, “karena tidak pernah tersentuh makeup dan perawatan.”
Vita berhenti mengunyah, menelan dengan cepat sebelum tertawa keras. “Dan kamu percaya?” tanyanya, kemudian kembali tertawa membuat Abi cemberut. “Aku tidak pernah berpikir kalau kamu sebodoh ini.”
“Tidak lucu!” seru Abi gemas.
Vita berusaha menahan tawa melihat wajah Abi yang tertekuk, “Setiap orang punya alasan sendiri atas jalan yang dipilih Abi. Mungkin, aku bisa dikategorikan sebagai yang tidak pernah tersentuh makeup dan perawatan. Tapi alasan menjadi ‘berbeda’ itu sangat banyak.”
Wajah Abi normal kembali. Malah terlihat berbinar. Vita menyadari akan menjadi panjang jika membiarkan Abi bertanya lebih lanjut. Ekspresi itu akan terlihat saat Abi ingin tahu detil tentang bahasan yang membuatnya tertarik.
“Jadi, mau cerita siapa itu Abdiel?” tanya Vita mengalihkan topik pembicaraan.
Wajah Abi memerah tiba-tiba. Dia menjadi gugup. Ah, dia malu untuk bercerita adegan aneh di cafe tadi siang.
“Hei, sepertinya dia orang yang spesial!” goda Vita.
“Bukan!” Abi menyanggah cepat. “Dia ... dia ....”
“Ayolah! Mengapa jadi gugup begitu?” Vita kembali menggoda.
Abi terdiam sesaat sebelum bertanya, “Apa menurutmu wajar seorang lelaki mengajak menikah seorang wanita yang belum dikenal sama sekali?”
“Wow!” Vita takjub, selanjutnya bersiul. “Pasti lelaki itu sakit jiwa.”
“Vita, aku serius!” Abi tidak senang mendengar jawaban Vita. Entah mengapa dia ingin mendengar sebuah dukungan.
“Aku juga,” ucap Vita. “Kamu pikir lelaki normal mana yang melamar wanita yang tidak dikenal sama sekali?”
Abi terdiam beberapa saat. “Memangnya lelaki normal akan melakukan apa?”
“Melakukan yang kulakukan,” jawab Vita mantap. “Jatuh cinta, melakukan pendekatan, lalu pacaran. Beberapa waktu pacaran, merasa yakin, baru melamar.”
Abi mendengus. “Itu bukan lelaki, tetapi banci!” sinisnya. “Kalau tidak, itu remaja putra yang belum berani mengemban tanggung jawab.”
Well, aku memang bukan lelaki,” balas Vita tidak tersinggung seperti tadi. Santai dia menyuap sesendok sereal lagi sebelum mengunyah sebentar dan menelan. “Tapi pastinya, dimana-mana sebuah hubungan itu perlu proses, Bi. Kamu tidak ingin salah pilih pasangan, ‘kan?”
Abi bersungut. “Apa tidak ada cara lain selain itu? Seleksi pasangan tidka harus pacaran, ‘kan?”
Vita menggedikkan bahu. “Trend di masyarakat kita ya pacaran.”
Abi mencibir. Dia benci dengan kebiasaan itu.
“Jadi, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Vita sedikit penasaran. “Menerima lamarannya?”
“Dia tidak melamar,” sanggah Abi. “Ah ...” dia terlihat berpikir, “mungkin itu bisa disebut lamaran. Tahu ah, bingung!”
“Terima saja,” saran Vita enteng.
Ish, tidak mau! Aku belum kenal dia. Tidak tahu bibit, bebet, bobotnya,” tolak Abi mentah-mentah. “Dia memang keren dengan mengabaikan sebutir gigi geraham depan yang tidak berada ditempatnya. Tapi itu tidak cukup. Mana tahu dia penderita AIDS yang sedang mencari mangsa. Atau mungkin playboy cap ayam kuntet yang sok kecakepan.”
“Sebutir gigi geraham depan yang tidak berada ditempatnya?” tanya Vita mengabaikan kalimat Abi yang lain sembarimeraih gelas berisi air putih disamping mangkuk sereal. “Maksudmu gingsul?”
“Bukan!” Abi menggeleng bersamaan dengan Vita yang meneguk air. “Hilang Vit, bolong, ompong. Gigi geraham depan kanan samping taring Abdiel itu tidak ada ditempatnya alias rongak.”
Hampir saja Vita menyemburkan air putih yang baru saja masuk dalam mulutnya. Tawanya meledak setelah meloloskan air putih masuk ke perut melalui tenggorokan.
“Serius?” tanyanya meyakinkan.
Abi mengangguk. Vita pun kembali tertawa membayangkan sosok Abdiel—yang entah seperti apa—tanpa gigi geraham depan.
“Pasti usia si Abdiel ini 80 tahun, ya? Kakek-kakek,” ejek Vita sebelum kembali tertawa.
“Sembarangan!” protes Abi taksenang Vita menjelek-jelekkan Abdiel. “Usianya baru 35 tahun. Masih segar-bugar. Masih gagah. Masih fresh, menarik,” Abi berhenti sebentar. “Well, abaikan rongaknya itu.”
Spontan Vita lagi-lagi tergelak, “Sepertinya sudah ada yang naksir di sini.”
“Siapa?!”
“Kamu.”
Ish, tidak!”
“Baiklah, baiklah!” Vita berlagak mengalah sembari bangkit dari duduknya.
“Mau kemana?” tanya Abi yang merasa percakapan mereka belum selesai.
“Mandi. Gerah.”
“Tapi kamu belum cerita tentang pacarmu itu”
Abi berusaha mencegah. Dia masih penasaran mendengar kisah Vita dan wanita cantik yang merupakan boss-nya Vita itu.
“Lain kali, deh! Aku capek, habis mandi mau tidur.”
Abi mendengus kecewa. Tapi dia tidak memaksa lagi. Sepertinya, bukan sekarang waktunya untuk tahu.
***

Malam sudah larut. Abi masih sibuk membuat soal ujian di depan televisi ketika Naomi pulang. Dua minggu lagi Ujian Akhir Semester di sekolah tempat dia mengajar akan berlangsung. Sebagai seorang guru, sejak kemarin dia mulai disibukkan oleh kegiatan membuat soal ujian. Terlebih, dia merupakan guru Matematika. Harus teliti dalam membuat soal dan kunci jawaban.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.15 malam, namun tidak terlihat raut kelelahan di wajah Naomi. Dia sumringah. Begitu gembira sampai-sampai menghampiri Abi hanya untuk bercipika-cipiki.
“Abi, aku senang sekali!” seru Naomi girang.
Kedua tangannya masih melingkar di leher Abi. Pelipis mereka bahkan saling menempel.
“Apa, sih?” Abi berusaha membebaskan diri dari pelukan Naomi. “Aku sedang sibuk Naomi.”
“Abi, aku senang!” Naomi tidak mengacuhkan keluhan Abi. “Suni sweet sekali hari ini. tadi kita masak bersama, lalu makan malam romantis di kontrakannya.”
“Cih, apanya yang romantis hanya makan malam berdua di rumah? Kontrakan pula,” cela Abi.
Naomi langsung melepas pelukannya, “Romantis Abi. Sebagai programmer, Suni biasanya terlalu sibuk di depan komputer. Dan tadi dia menyempatkan diri menemaniku memasak. Kyaaa ... Itu romantis!”
Abi mencibir. Tetapi Naomi tidak peduli. Dia malah asik melanjutkan cerita.
“Pulang dari kontrakan Suni, aku menemukan kedia teh baru. Kamu tahu, Bi?”
“Tidak,” sambar Abi.
“Abi gitu deh!” Naomi kesal Abi memotong kalimatnya. “Kedai teh itu kecil, Abi. Tapi varian teh yang tersedia banyak. Ya Tuhan! Akhirnya aku menemukan juga kedai teh yang menarik.”
Abi memutar bola mata melihat ekspresi Naomi yang mulai berlebihan, “Memangnya Suni betah berlama-lama di kedai teh?”
Naomi menggeleng, “Aku ke sana sendiri.”
“Jadi kamu pulang sendiri?!” Abi kaget. “Semalam ini?”
“Dih, Abi! Ini belum jam 12 malam. Lagipula aku sudah besar, udah dewasa. Usia kita sama-sama 23 tahun.”
Abi menghela nafas, “Mengapa tidak diantar Suni?”
“Dia sibuk Abi. Tadi juga masih harus menyelesaikan pekerjaan,” bela Naomi. “Selain itu kami pacaran sudah empat tahun, Bi. Sudah saling mengerti dan memahami.”
Reflek Abi mengecimus, mual mendengar kalimat Naomi. “Sok memahami iya. Hubungan kalian itu berjalan satu arah tahu. Nyatanya selalu kamu yang harus mengerti Suni.”
“Jangan mulai, Bi. Aku tidak mau kita bertengkar dengan bahasan yang sama.”
Abi menarik napas panjang, kemudian mengeluarkannya berat. “Aku tidak akan pernah bosan mengatakan kalau kamu butuh kandidat baru Nao. Apa kamu tidak lelah?”
Naomi terdiam. Tidak lama sebelum ekspresinya ceria kembali, “Aku sudah memberitahu kandidat terakhir. Lusa kalian bisa bertemu pas makan siang. Di cafe yang tadi.”
Abi menghela napas sadar kalau Naomi berusaha melarikan diri, “Baiklah. Terima kasih.”
“Oke,” Naomi mencuil dagu Abi, “aku duluan. Mau mandi dan istirahat.”
Abi mengangguk dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. Naomi balas tersenyum, lalu beranjak masuk kamar.
Abi memijat dahinya pelan. Dia khawatir dengan masa depan Naomi bila masih bersama Suni. Dia tidak ingin lagi melihat air mata Naomi jatuh karena lelaki itu. Dia juga tidak mau melihat lebam yang kadang membekas di kulit Naomi karena dipukul. Tapi apa yang bisa dia perbuat jika Naomi sendiri yang tidak mau bebas?
Gadis ini menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan. Bukan saatnya memikirkan nasib orang lain. Dia harus menyelesaikan pembuatan soal dan menyiapkan diri untuk lusa. Ya, dia punya kehidupan sendiri yang harus lebih diperhatikan.
***

Abi melirik jam tangannya. Hari minggu siang ini begitu panas. Dia sudah meminum dua gelas es lemon tea, tapi kandidat terakhir dari Naomi itu belum terlihat. Padahal waktu telah berlalu 30 menit dari jam janji temu.
Gadis ini menyuap cheesecake-nya. Bersyukur ini hari minggu, jadi dia punya banyak waktu untuk menunggu. Lagipula suasana cafe ini nyaman, membuat betah untuk berlama-lama duduk diam menikmati pesanan.
“Sorry saya telat,” sapa sebuah suara yang pemiliknya langsung duduk di depan Abi.
Abi mendongak dan langsung mendapati wajah sederhana lelaki mapan. Tidak buruk. Cukup menarik dan rapi. Wajahnya sedikit mengingatkan Abi dengan seseorang, tapi dia lupa siapa.
“Saya harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditunda meski hari minggu sekalipun,” lanjutnya sebelum melambai, memanggil pelayan.
Abi mesem. Dia langsung tak berminat mendengar penjelasan itu. Lelaki sibuk, huh!
“Namamu Abi, ‘kan?” tanya lelaki itu setelah memesan. “Kamu menarik. Persis seperti deskripsi Naomi.”
“Terima kasih,” ucap Abi berusaha sopan.
“Saya dengar kamu seorang guru, ‘kan?” tanyanya. Akan tetapi, belum sempat Abi menjawab lelaki itu sudah berkata lagi, “Mengapa tidak menjadi sekretaris saja seperti Naomi? Pasti seru kalau kamu jadi sekretaris pribadi saya.”
Abi mengernyit taksenang. Dia sudah akan mengatakan sesuatu saat pesanana lelaki itu datang. Mendadak Abi merasa lega. Sementara waktu ada yang menyumpal mulut lelaki itu agar tidak berbicara lebih banyak. Abi takut dia tidak bisa menahan diri untuk menendang orang di depannya ini ke luar cafe.
“Naomi bilang namamu Arlon, ‘kan?” kali ini Abi berusaha mengambil alih pembicaraan.
Lelaki itu mengangguk, sambil tetap mengunyah. Abi tersenyum samar memikirkan banyak waktu untuknya memegang kendali.
“Usiamu 31 tahun, ‘kan? Usia yang menarik.”
Lelaki yang bernama Arlon itu tersenyum bangga.
“Tapi mengapa orang sepertimu belum menikah?” tanya Abi sengaja. “Itu sedikit aneh.”
Arlon mempercepat kunyahannya sebelum menelan dan menjawab, “Terlalu banyak wanita matre di dunia. Mereka mendekati saya hanya untuk uang dan berselingkuh di belakang.”
Abi kasihan mendengarnya. Sayangnya, bukan rasa kasihan yang membuat tersentuh atas kemalangan Arlon. Tapi kasihan karena lelaki itu tidak sadar kalau hampir penyebab hancur hubungan itu pasti karena dirinya sendiri.
“Perhatian seperti apa yang kamu berikan kepada mereka?” tanya Abi berusaha terdengar simpati.
“Saya terlalu sibuk, tapi saya berusaha memenuhi kebutuhan belanja mereka. Dan berusaha meluangkan waktu sebanyak yang saya bisa,” jawab Arlon sebelum meneguk minumannya.
See! Abi tahu lelaki ini terlalu sibuk dengan urusannya sendiri dan ingin pasangannya selalu mengerti. Persis sama seperti Suni pacar Naomi. Maaf saja, dia tidak ingin terjebak dalam masalah yang sama.
“Jadi, kamu sudah lelah dengan itu semua. Karena itu memutuskan untuk serius dengan menerima pertemuan kita ini,” tebak Abi.
Arlon tergelak, “ Saya selalu serius Abi. Mereka saja yang tidak menghargai keseriusan itu.”
Abi mencela dalam hati. Serius, tapi hanya menjejali pacarnya dengan uang. Lalu setelah putus dengan santai bilang kalau wanita sekitarnya terlalu matre.
“Jujur, aku sedang mencari calon suami. Apa kamu bisa menikahiku dalam waktu dekat, seandainya kita berdua cocok?”
Arlon tergelak lagi, “Tidak secepat itu Abi. Kita baru bertemu sekali. Saya belum terlalu mengenal dirimu. Mungkin kita bisa memulai dengan berpacaran beberapa waktu untuk melihat kecocokan itu.”
“Kalau begitu ...”
Kalimat Abi terpotong oleh dering telepon dari saku Arlon. Lelaki itu segera menjawab panggilan. Setelah berbicara sebentar dia menatap Abi menyesal, “Maaf, saya harus segera pergi. Masih banyak hal yang harus saya selesaikan hari ini. senang berjumpa denganmu, Abi. Saya harap kita bisa mengatur waktu untuk bertemu lagi.”
Abi hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Arlon. Lain kali dengan lelaki seperti ini? Terima kasih, dirinya tak berminat.
Arlon pun pergi. Abi menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Dia lelah.
Cheesecake terlihat tidak menarik lagi. Begitupun es lemon tea. Dia sibuk merutuki lelaki yang seperti apapun sama saja. Hanya mengambil keuntungan dari perhatian wanita tanpa ingin repot terkekang dalam suatu ikatan.
Bisa jadi dia terdengar egois. Tapi tidak baginya. Dia hanya ingin mencari pendamping hidup serius, yang tidak memanfaatkan situasi. Seorang lelaki yang berkomitmen dan bertanggung jawab. Apa itu begitu sulit sekarang ini?
“Kecewa, hum?” tanya sebuah suara dari belakangnya.
Seketika Abi menoleh. Matanya melotot mendapati seseorang yang ingin dia geser dari otaknya duduk manis di sana, tepat di kursi belakangnya.
“Kamu!?”
....
***
Bersambung....