Sabtu, 21 Juni 2014

CHEESECAKE, TEASET, AND CEREAL; CHEESECAKE 3



Abi tak ingin percaya, tapi wajah itu tepat di depan mata. Bibirnya terasa dingin. Pasti warnanya berubah pucat. Pinggang yang mulai sakit karena tubuhnya memutar waktu menoleh kebelakang terabaikan. “Mengapa kamu disini?”
Untuk kedua kalinya pada waktu yang tidak lama Abi menoreh sejarah memalukan dalam hidup. Dua kali, orang yang sama memergokinya saat sedang mempermasalahkan tentang pendamping hidup. Dua kali kebetulan yang sangat sempurna.
               Kebetulan?
Rasa curiga kemudian muncul dengan praduga-praduga yang sambung-menyambung. Siapa Abdiel? Mengapa mereka harus bertemu di tempat yang sama dalam posisi yang hampir sama? Apa lelaki ini mengikutinya?
Senyum gigi terawat memesona meski sebutir gigi seri dekat taring tak terlihat disana tidak mengurangi kharisma pemiliknya. “Ini tempat umum, setahuku,” jawab Abdiel santai membuat Abi ingin menimpukkan tas tangan yang dia bawa ke wajah itu. “Aku biasa makan siang di sini.”
Mata Abi memicing, “Ini kebetulan yang mencurigakan.”
Abdiel tersenyum miring, “Apa kamu percaya tidak ada kebetulan di dunia?”
“Maksudmu? Kamu sengaja mengikutiku, begitu?” tebak Abi percaya diri.
Sebelah alis Abdiel terangkat tinggi seolah berkata “siapa kamu sehingga perlu kuikuti” membuat Abi mencebikkan bibir. Lalu lelaki ini tersenyum misterius. “Bibir itu menarik.”
Abdiel mengatakan ini sekaligus menunjuk pada hal yang dimaksud. Abi langsung memberikan pelototan kesal dengan tangan langsung mengayun tas ke wajah Abdiel.
Abdiel berusaha menepisnya, namun Abi mengulang beberapa kali sehingga lelaki ini pasrah. “Apa kamu tidak tahu kalau itu pelecehan? Dasar lelaki kurang ajar!”
“Hei, hei, hei, don’t be rude, dear!” tangan Abdiel menahan tas Abi ketika merasa mereka mulai jadi tontonan. “Aku tidak mau kita berdua masuk berita di televisi dan koran dengan headline berjudul Merasa Dilecehkan Seorang Wanita Cantik Melakukan Penganiayaan.
Abi mendengus, menghentikan aksi sekaligus memperbaiki duduknya. Efek memutar badan membuat pinggangnya semakin sakit. “Itu terlalu bagus. Akan lebih baik kalau judulnya ABG Tua Digebuk Karena Melakukan Pelecehan.
Abdiel tergelak, “ABG tua, ya? Sound good! Berarti aku masih terlihat cukup muda.”
Abi berdecak sebal, kembali duduk membelakangi Abdiel sembari tangannya terlipat di depan dada. Abdiel mengambil kesempatan itu untuk pindah, duduk di meja yang sama dengan Abi.
“Kamu itu menyebalkan,” ujar Abi langsung memalingkan muka.
Abdiel tersenyum tipis, memandangi wajah cemberut Abi yang terlihat lucu. Dia terus begitu sampai Abi merasa jengah
“Apa?” bentak gadis ini.
“Apa penawaranku kurang menarik sehingga kamu masih perlu melakukan pertemuan dengan lelaki lain?” tanya Abdiel tak menyiakan kesempatan setelah mendapatkan perhatian Abi kembali.
“Aku tidak mengenalmu!” sentak Abi dengan pandangan tajam menatap Abdiel lurus.
“Karena itu, ayo kita kenalan,” balas Abdiel santai.
Abi berdecak, kembali memalingkan muka. “Aku tidak mau.”
“Mengapa?”
Abi mendelik. “Apa harus memiliki alasan?”
“Tentu saja. Setiap hal mempunyai alasan,” jawab Abdiel realistis.
“Kalau begitu, katakan apa alasanmu tiba-tiba menawariku sebuah pernikahan?” todong Abi.
“Apa aku harus?” tanya Abdiel seakan sedang mengambil keputusan sulit.
“Tentu saja. Setiap hal mempunyai alasan,” balas Abi menirukan kalimat Abdiel sebelumnya dengan niat menyindir.
Abdiel mengubah posisinya. Kaki menyilang dengan kaki kanan di atas kaki kiri. Tubuhnya mundur kebelakang sehingga menyentuh senderan kursi. Jari telunjuk kanan mengetuk meja berirama. Sedangkan tangan kiri berada di atas kepala kursi, menumpu dagu. Terlihat meyakinkan sedang berpikir keras.
Abi memutar bola mata mencela melihat posisi Abdiel yang menurutnya terlalu dramatik. Hal ini membuat Abi berspekulasi kalau Abdiel memunyai alasan negatif dibalik penawaran itu.
“Jangan-jangan kamu pengidam AIDS, ya?” serang Abi. “Atau seorang hiperseks yang perlu istri agar bisa ditunggangi kapan pun kamu butuh?”
Alis Abdiel naik sebelah, “Diagnosismu seram sekali! Apa aku sebegitu mencurigakannya?”
“Mana aku tahu. Ini kan hanya sekedar spekulasi,” ketus Abi. “Lelaki sepertimu ...” Abi menghentikan kalimatnya memandang Abdiel, “sedikit sulit dipercaya belum menemukan pasangan hidup diusia 35.”
Abdiel tersenyum, “Aku anggap itu pujian.”
Abi kembali memutar bola mata.
“Kalau kujawab tidak mudah menemukan pasangan hidup yang cocok, apa kamu percaya?”
“Tidak,” geleng Abi.
“Mengapa?”
“Nyatanya kamu berani menawariku sebuah pernikahan padahal kita tidak saling megenal sama sekali. Jadi menurutku, kamu bukan tipe lelaki pemilih.”
“Hmm,” sikap duduk Abdiel sudah kembali santai dengan kedua tangan terlipat di depan dada, “bagaimana kalau kubilang sudah bosan hidup membujang? Jadi aku menemukanmu ketika hasrat berumahtangga itu muncul.”
Abi manggut-manggut, “Cukup masuk akal, walau tetap saja terbilang nekat.”
Abdiel menggelengkan kepala, “Ini bukan nekat. Kita bertemu di tempat dan saat yang tepat. Kita sama-sama ingin menikah, dan kita bertemu.”
Abi tercenung mendengar ucapan Abdiel. Benarkah?
“Lalu, sekarang kita sudah boleh berkenalan?” tanya Abdiel membawa Abi ke topik semula.
“Hah?”
“Baiklah, aku saja yang lebih dulu memperkenalkan diri,” ujar Abdiel yang menyadari Abi sedang tidak fokus. “Namaku Abdiel Ghani Ariqin. Kamu bisa memanggilku Abdiel, Abdi, Diel, dan Ghani. Ariqin nama keluarga. Sedikit informasi Abdiel itu bukan nama favorit Ibuku. Beliau lebih senang memanggilku Abduh atau Abdu.”
“Mengapa?” tanya Abi sedikit penasaran. “Bukankah Abdiel nama yang bagus?”
“Memang bagus. Artinya hamba Tuhan. Tapi, aku sering dikira non muslim karena nama itu berasal dari bahasa Ibrani.”
“Kalau begitu, mengapa tidak ganti nama?”
“Nama itu pemberian kakek dari ayah. Ayah tetap menggunakannya untuk menghormati beliau.”
“Ayahmu mualaf?”
“Bisa dikatakan begitu.”
Abi manggut-manggut. “Om Abdu bagaimana? Sepertinya keren memangilmu begitu. Juga menghargai ibumu.”
Abdiel menggeleng. “Tidak. Kamu calon istriku, jadi jangan panggil om, paman, dan sebutan lainnya yang menjurus. Itu akan memberi kesan kalau kamu memiliki calon suami umur setengah abad.”
Abi tergelak. “Percaya diri sekali! Aku belum menerima tawaranmu.”
“Kita sedang menuju ke sana,” balas Abdiel yakin.
Abi mencibir. “Baiklah! Aa’ saja, diambil dari huruf depan namamu. Tidak ada penawaran lagi.”
Sound good! Itu terdengar lebih mesra,” ucap Abdiel puas. “Oke, lanjut! Aku lahir di Jakarta, 20 Juni 1977. Tinggal di Jakarta sampai SMA, lalu pindah ke sini sampai sekarang. Suku campuran—India, Arab, dan Jawa. Bekerja sebagai pengusaha mebel. Sekarang masih tinggal di rumah orang tua. Dan orang tua hanya tinggal Ibu. Ayah meninggal lima tahun lalu.”
Reflek Abi mengucap kalimat istirja’, Inna Lillahi wa inna ilaihi raji'un. “Aku turut berduka cita.”
“Terima kasih,” ucap Abdiel dengan senyum lembut memesona.
Jantung Abi berdetak kencang melihat itu. Abdiel sempat beberapa kali memesonanya, tapi kali ini begitu berpengaruh.
“Mulai naksir, hum?” goda Abdiel yang melihat Abi terpana.
Abi langsung merubah ekspresinya sebelum membantah. “Tidak.”
Abdiel tertawa. “Bukannya lebih baik kalau kamu naksir.”
“Hoh!?”
Abdiel tertawa lagi melihat ekspresi kaget setengah mencela yang terlihat di wajah Abi. Sepertinya, dia tidak bosan menanti ekspresi aneh lain yang bisa gadis ini tunjukkan.
***

Satu persatu informasi tentang Abdiel masuk ke otak Abi. Makanan favorit; tempat favorit; warna favorit; Latar belakang pendidikan; prestasi yang kalau ditulis akan menjadi sebuah Curriculum Vitae lengkap. Otak memproses informasi tersebut dan menyimpannya di tempat khusus agar tak terlupakan.
“Sekarang giliranmu,” pinta Abdiel.
“Tanya aku, dan akan kujawab.”
Abdiel menyeringai membuat Abi cemas terlebih ketika lelaki itu berkata. “Baiklah, kamu yang meminta.”
“Abaikan saja! Aku akan bercerita sendiri,” Abi menarik ucapannya.
“Tidak bisa. Hal yang sudah dikatakan tidak bisa ditarik kembali.”
“Hmm ... baiklah! Tapi aku berhak tidak menjawab hal yang tidak ingin kujawab.”
Abdiel mengangguk. Sedang Abi menjadi tegang. Gugup dia menyendok cheesecake yang sejak tadi terabaikan.
“Nama lengkapmu?” tanya Abdiel memulai dengan pertanyaan yang sederhana.
“Abidah Azzahra,” jawab Abi singkat, padat, dan jelas.
“Nama panggilanmu Abi, ‘kan?”
Abi mengangguk.
“Ceritakan padaku profil singkatmu!”
“Itu bukan pertanyaan,” protes Abi.
“Memang. Itu perintah.”
Abi mendesis sebal “Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 23 tahun lalu. Tepatnya 18 Februari 1990.
Ayah dan ibuku dosen Bahasa Indonesia di sebuah kampus negeri di kota asalku. Kakak tertuaku sudah menikah dan memutuskan menjadi penulis agar bisa kerja di rumah sehingga tetap konsentrasi membesarkan anak-anaknya. Adikku masih kelas XI, lelaki yang sangat suka olahraga. Dan aku selepas kuliah masih bertahan di kota pelajar ini sebagai guru honor, juga mengajar bimbel.”
“Mengajar apa?”
“Matematika.”
“Wow, menarik! Aku paling lemah di Matematika. Jadi bisa memperbaiki keturunan,” canda Abdiel.
Abi hanya melengos, “Masih ada pertanyaan?”
“Tentunya,” jawab Abdiel mantap. “Katakan padaku alasanmu ingin menikah diusia 23! Apa kamu tidak berpikir masih muda untuk memikirkan pernikahan?”
Abi menyeringai. Abdiel mengatakan kalimat sensitif. “Apa kamu akan menawarkan pacaran juga sebelum menikah?”
Abdiel tersenyum lembut dan menggeleng. “Aku hanya ingin tahu alasanmu.”
Abi meraih gelas es lemon tea yang tidak dingin lagi. Lalu menyeruputnya. Entah mengapa kerongkongannya mendadak kering melihat senyum Abdiel untuk kesekian kali. Setelah itu memperbaiki posisi duduk sebelum menjawab, “Supaya bisa punya anak minimal 4.”
Abdiel menegakkan punggungnya mendengar jawaban Abi.  Mulutnya sedikit terbuka menyebutkan “ha” tanpa suara. “Itu jumlah minimal yang cukup banyak.”
Abi mengangguk. “Banyak yang mengatakan itu. Tapi, aku terbiasa hidup dengan banyak kerabat. Sepupuku sangat banyak. Nenek dari pihak Bapak punya anak 8. Setiap anak memberikan cucu minimal 2. Nenek dari pihak Bunda lebih banyak lagi. Anak beliau ada 10. Anak pertama memberikan cucu 5 orang. Kedua 4 orang. Ketiga 6 orang. Keempat satu orang. Keenam 2 orang. Ketujuh 5 orang. Kedelapan 3 orang.  Kesembilan 4 orang. Dan kesepuluh 2 orang.”
Abdiel manggut-manggut, takjub. “Keluarga yang sangat besar kalau berkumpul.”
Abi mengangguk lagi, mengiyakan. “ Well, jadi bisa dikatakan pengaruh lingkungan, aku juga ingin punya banyak anak. Sepertinya mengasyikkan saat tua dikelilingi anak dan cucu yang ramai.
Lalu alasan lainnya masih ingin berusia tergolong muda saat anakku remaja. Jadi anakku dan aku bisa ke salon bersama, belanja bersama, dan jalan-jalan bersama. Aku pikir itu seru.”
“Alasan terakhir sederhana sekali,” ucap Abdiel, lalu tergelak pelan.
Abi berdesah. “Mana enak punya anak remaja ketika kita sudah lewat setengah abad.”
“Lalu, pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?” tanya Abdiel mengabaikan sindiran Abi.
Mulut Abi sedikit maju menandakan bahwa dia ragu arah pertanyaan Abdiel. “Acara pernikahan atau rumah tangga harapanku?”
Abdiel menelengkan kepalanya ke kiri. Menatap Abi dalam. Menyelami sesuatu dari kedua mata gadis ini. membuat Abi jengah dan menunduk, berpura-pura sibuk dengan cheesecake dihadapannya.
“Rumah tangga harapanmu.”
Abi mengangkat wajahnya, balas menatap Abdiel mencari keseriusan dari pertanyaan itu. Kemudian duduk tegak ketika mengatakan, “Rumah tangga yang aman dan nyaman bagiku, suamiku, dan anak-anak kami.”
Abdiel berdiam sebentar meresapi jawaban Abi sebelum bertanya lagi, “Apa yang bisa kamu lakukan untuk mewujudkan itu?”
Abi menggedikkan bahu. “Entahlah. Aku belum memikirkan itu terlalu jauh. Tapi, menurutku yang paling utama suamiku dan aku harus punya visi yang sama. Bayangkan saja misalnya suamiku seorang presiden dalam rumah tangga kami, lalu aku wakilnya. Pasti rumah tangga itu tidak akan nyaman jika Presiden dan wakilnya memiliki visi yang berbeda. Akan banyak perbedaan pendapat yang muncul.”
“Jadi, apa visimu?”
Abi memalingkan wajah 45°. Matanya melihat Abdiel seakan mengamati. “Apa aku harus menjawab ini?”
“Menurutmu?” tanya Abdiel balik.
Well,” setelah berpikir beberapa saat Abi buka suara, “visiku menjadi orang yang selalu dirindukan oleh suami dan anak-anakku.”
Abdiel mengernyit.
“Jadi pergi kemana pun mereka dan sejauh apapun itu mereka akan merindukanku yang menunggu sehingga akan selalu ingat pulang.”
Binar bangga terlihat di mata Abdiel. Dalam beberapa hal dia merasa menemukan calon yang tepat. “Itu tidak akan mudah.”
“Tentunya,” sahut Abi. “Lalu kamu, apa misimu?
“Menjadi orang yang selalu merindukanmu,” jawab Abdiel dengan cengiran khasnya.
Hati Abi bergetar lagi. Meskipun mungkin Abdiel bercanda, tapi kalimatnya menyentuh ke dasar kalbu gadis ini. Namun Abi tidak mau Abdiel tahu. Untuk menutupi keanehan itu dia berlagak tak terpengaruh dengan memutar bola mata.
“Apa masih ada yang ingin kamu tanyakan?” tanya Abi sambil berharap dalam hati semoga tidak akan ada pertanyaan lagi.
“Aku rasa untuk sementara, ini sudah cukup.” Abdiel meraih gelas lemon tea Abi dan mengangkatnya. “Senang berkenalan denganmu, Abi.”
Abi tersenyum geli melihat Abdiel mengangkat gelas es lemon tea-nya mengajak salute. Tak ingin kalah aksi dia mengangkat piring cheesecake-nya, “Aku juga.”
***
Bersambung...














Rabu, 11 Juni 2014

CHEESECAKE, TEASET, AND CEREAL; CHEESECAKE 1



“Lagi?” tanya Naomi shock sembari meletakkan canggkir teh yang dia pegang ke atas meja.
Saat ini mereka sedang duduk di sebuah cafe langganan. Dia tidak peduli kalau pengunjung lain melirik mereka karena terganggu dengan volume suaranya yang cukup kencang.
Gadis berkerudung yang ditanya hanya mengangguk, sedang mulutnya sibuk mengunyah cheesecake favorit. Tidak tampak kesedihan sama sekali. Bahkan terlihat wajah puas seorang pemenang sebuah pertandingan.
You always do, Abi!” Naomi frustasi menghadapi sahabatnya yang satu ini. gadis yang terobsesi menikah muda, tapi sangat pemilih.
Gadis yang dipanggil Abi ini menggedikkan bahu, acuh. Sekarang malah sibuk menyedot habis lemon tea dari gelasnya.
Naomi menghela napas gerah meskipun cafe ini memiliki pendingin ruangan, “Jadi sebenarnya kamu mau menikah atau tidak?”
“Tentu saja mau!” jawab Abi cepat kali ini. Seakan pertanyaan Naomi akan berubah menjadi kutukan anti pernikahan jika dia telat menjawab.
“Lalu mengapa setiap lelaki yang mendekati selalu kamu tendang jauh-jauh?” geram Naomi. Dia mengambil sepotong pai apel teman minum teh kali ini, lalu menggigitnya kesal.
Abi tampak berpikir sebentar sebelum menjawab, “Karena itu yang sepantasnya.”
Naomi melotot, mendengar jawaban acuh sahabatnya ini. Cepat-cepat ditelan pai apel tadi, kemudian mulutnya sudah terbuka ingin mengatakan sesuatu ketika Abi lanjut berkata, “Baru chatting sekali sudah berani menggunakan emot cium atau mengetik ‘kiss’. Belum apa-apa sudah bertanya hal-hal pribadi seperti orang yang tidak tahu etika berkenalan. Semuanya menyebalkan!”
Kembali Naomi akan mengeluarkan pendapat setelah meneguk teh untuk menghilangkan rasa kering di mulut saat Abi menyambung ucapan, “Tidak ada satupun yang serius kejenjang pernikahan. Cara pendekatan mereka persis ABG yang ingin berpacaran.”
Abi  menyuap sesendok cheesecake lagi setelah mengucapkan itu. Sedangkan Naomi memandangi sahabatnya ini, memastikan kalau Abi tidak akan menyerobot kesempatannya bicara.
Merasa yakin, Naomi membuka mulut untuk berucap tatkala Abi berkata, “Paling menyebalkan itu waktu salah satu dari mereka menanyakan usiaku. Setelah kujawab, lelaki itu malah berkomentar usiaku terlalu muda untuk memikirkan pernikahan. Terus, dia memberi saran bagaimana kalau berpacaran terlebih dahulu untuk saling mengenal.
Ya Tuhan! Umur berapa dia? Pasti dia berpikir kalau perempuan itu sama seperti laki-laki yang umumnya mulai berkeinginan berumah tangga ketika usia 27 ke atas. Jelas dia tidak tahu wanita kebanyakan sudah butuh pendamping ketika memasuki usia 20.”
Ekspresi Abi menunjukkan kegemasannya pada lelaki yang entah siapa itu. Sekali lihat saja Naomi tahu lelaki itu masuk dalam daftar hitam calon suami gadis di depannya ini.
“Sudah?” Naomi memastikan.
What?” Abi bingung seraya menyeruput lemon tea kesukaannya.
“Masih ingin bicara?” perjelas Naomi.
Abi menggeleng, masih menyedot lemon tea.
“Dengar,” Abi memperbaiki duduknya mendengar nada perintah itu, “lelaki sekarang ini mana berani mengajak kejenjang serius tanpa adanya pendekatan siknifikan.”
Abi tersenyum sinis, “Bukti bahwa lelaki sekarang bermental tahu, ‘kan?”
Ck, bukan itu Abi!” Naomi kesal Abi masih sempat membajak gilirannya bicara. “Mereka butuh waktu untuk menentukan bahwa kamu yang terbaik sebelum mengajukan ajakan berumah tangga.”
“Dengan pacaran?” sinis Abi bertanya.
Naomi mengangguk meski tahu jawabannya bisa membuat Abi dongkol, “Sejauh ini cara itu yang selalu digunakan.”
Benar saja, Abi mendengus. Gadis ini menyuap cheesecake-nya lagi dengan geram.
Dia bukan berlagak suci. Tidak juga berlaku sok menjaga diri. Dia gadis biasa dengan pengetahuan agama yang seadanya. Hanya saja, sampai saat ini dia belum menemukan alasan positif menjalin sebuah hubungan di luar pernikahan.
Terlalu banyak hal kurang menyenangkan yang dia temukan disekitar akibat pacaran. Salah satu teman SMP-nya meninggal bunuh diri karena dikhianati. Salah satu teman SMA-nya tidak serius sekolah hingga gagal Ujian Nasional akibat baru berpacaran. Seorang teman kuliah hamil di luar nikah juga disebabkan berpacaran. Kemudian Naomi, hampir setiap hari pusing—kadang sampai menangis—sebab bertengkar dengan pacarnya.
“Lagipula...” Naomi diam sejenak, terlihat ragu, “kedekatanmu dan Vita menjadi gossip belakangan ini.”
Pupil Abi melebar. “Hah!” seruan kaget itu lolos dari mulunya. “Maksudmu beredar gossip kalau kami...,”
Naomi mengangguk.
“Ya Tuhan!” Abi geleng-geleng kepala. “Kita bertiga bersahabat sudah lama Nao. Kita juga megontrak rumah bersama sejak kuliah di kota ini. Bagaimana mungkin bisa ada gossip seperti itu? Selain itu, kita selalu betiga kemana-mana. Mengapa harus aku dan Vita yang tertimpa gossip?”
Naomi menggedikkan bahu, “Mungkin karena bertahun-tahun kita mengontrak rumah di lingkungan itu hanya kalian berdua yang tidak pernah terlihat dikunjungi lelaki.”
Abi menyeruput lemon tea-nya cepat sebelum bicara, “Apa sudah banyak yang tahu kalau ...”
“Sepertinya masih praduga. Hanya kita berdua dan ... pasangan Vita yang tahu kalau dia ... penyuka sesama,” Naomi sedikit berbisik di frasa terakhir. “Karena itu, untuk menepis gossip dan melindungi Vita dari pandangan buruk kamu harus segera menikah. Minimal memiliki pacar, Bi.”
Abi mengurut kening, gusar. Menggerutu atas perubahan orientasi Vita yang kini berimbas padanya. “Mengapa Vita harus belok, sih?”
“Karena dia belum tersentuh makeup dan perawatan,” jawab Naomi asal sebelum menyesap blossom tea yang tadi sempat terlupakan.
Wajah itu mengernyit mendapati minumannya mendingin. Berdecak pelan dia menambahkan blossom tea hangat dari dalam teapot.
Abi memutar bola mata, “Teori apa itu?”
Naomi menyeringai disela meresapi hangat teh dari balik cangkir yang dia genggam, “Aku masih punya satu kandidat. Kamu mau?”
“Berapa usianya?”
Naomi mengernyit, “Dia tidak setampan yang sebelumnya, tapi sudah sangat mapan.”
“Berapa usianya?”
“Tuhan! Ada apa dengan usia?” Naomi jengkel mendapati Abi lebih tertarik mengetahui usia daripada deskripsi fisik kandidat terakhir pilihannya.
“Berapa usianya, Nao?” Abi ikut jengkel pertanyaannya belum dijawab.
“Tiga puluh satu tahun,” jawab Naomi akhirnya.
Mata Abi berbinar, “Pertemukan kami berdua!”
Naomi memutar bola mata, “Aku rasa kamu harus lebih menghargai usiamu sendiri Abi. Dua puluh tiga tahun, tapi bertingkah seperti tante-tante yang butuh pasangan sesuai. Ada apa dengan om-om di dunia?”
Abi mencibir, “Kamu hanya belum tahu kharismatik lelaki yang usianya jauh di atas kita.”
“Aku rasa kamu butuh seorang psikiater Abi. Ini sudah tidak wajar. Sejak SMP kamu terobsesi dengan om-om. Ingat waktu kamu tertarik dengan pamanmu sendiri?” ucap Naomi dengan tatapan prihatin. “Kamu juga pernah tertarik pada guru Kimia kita di SMA yang masih sendiri di usia 35. Kamu bahkan malas makan selama seminggu ketika si tua itu menikah.”
Abi berpura-pura sibuk dengan cheesecake yang tersisa. Pikirannya kacau diingatkan tentang kenangan—sedikit—pahit masa SMA.
Sejak dulu dia tidak tertarik dengan permainan berpacaran yang biasa dilakukan anak muda seusianya. Saat melihat Pak Dian, guru Kimia mereka itu, dia langsung tertarik. Bukan hanya karena Pak Dian masih terlihat segar di usia 35, tapi juga karena kecerdasan dan wibawa yang ditunjukkan dalam kegiatan belajar mengajar.
Dia sudah berencana akan mengajak Pak Dian menikah setelah lulus SMA. Sayang sekali, gurunya itu lebih dulu menikah sebelum dia lulus. Hal ini sempat membuatnya terpukul.
Well, kapan kamu ingin bertemu?” tanya Naomi mengalihkan fokus, merasa bersalah membuat Abi mengingat masa lalu.
“Aku siap kapanpun,” Abi kembali bersemangat. “Asal jangan malam hari.”
“Oke! Aku harap kali ini...” suara dering panggilan menginterupsi kalimat Naomi.
Naomi meraih handphone di dalam tasnya kasar, merasa terganggu. Namun, wajahnya melembut melihat nama yang tertera di layar. “Iya, Yang?”
Pertanyaan pertama itu diikuti anggukan-anggukan pelan sampai pembicaraan hampir berakhir, “Iya, aku sedang menuju ke sana sekarang. Miss you!”
Abi memutar bola mata melihat Naomi segera berkemas, “Panggilan darurat lagi?”
Naomi memasang wajah menyesal dibuat-buat, “Maafkan aku.”
“Ya, ya, ya, pergilah! Aku tidak akan tega melihatmu menangis karena dibentak akibat terlambat datang. Hati-hati di jalan!”
“Kamu memang sahabat terbaikku!” seru Naomi sumringah, kemudian bergerak cipika-cipiki sebelum benar-benar pergi meninggalkan Abi.
“Kamu tahu Nao?” ucap Abi tatkala Naomi berbalik membelakanginya membuat gadis itu berhenti dan menoleh. “Aku rasa, kamu yang lebih memerlukan kandidat baru.”
Naomi mengibaskan tangannya tanda “tidak perlu”, menganggap ucapan Abi hanya sebuah candaan belaka. Kemudian kembali melangkah pergi.
***

Sepeninggal Naomi, Abi tetap bertahan di cafe. Dia memesan sepotong cheesecake lagi, memuaskan diri sebelum pulang. Dia butuh sedikit penyegaran.
Sebuah senyum manis terukir kala pelayan datang membawakan pesanannya. Membuat pelayan itu sedikit tersipu sebelum membalas senyumnya bijak, kemudian pergi.
Sayangnya, dia melupakan kenikmatan cheesecake saat matanya menjelajah keluar dinding kaca. Terlihat lalu-lalang pengendara bermotor. Terkadang tampak para pejalan kaki di trotoar atau yang ingin menyebrang, membawanya terhanyut dalam lamunan tentang Naomi, Vita, dan dirinya sendiri.
Bersahabat hampir 11 tahun dengan Naomi dan 8 tahun bersama Vita memberikan kenangan yang banyak. Susah senang kehidupan remaja mereka hadapi bersama.
Naomi dan dia pernah tak bertegur sapa karena dirinya tidak menyukai Delon, pacar Naomi ketika SMP. Lalu, pernah juga membiarkan t-shirt favorit-nya kotor akibat ingus Naomi yang menangis sesegukan karena Sofian—pacar Naomi saat SMA—menderita kanker otak dan meninggal. Sekarang, t-shirt-nya masih sering menjadi tissue dadakan. Namun, dia tidak pernah mengeluh.
Hal yang paling membekas ketika Naomi dan dia mendengar pengakuan Vita tentang penyimpangan orientasinya di tahun ketiga mereka kuliah. Awalnya, mereka takut berdekatan dengan gadis itu. Namun pada akhirnya mereka sadar—meski membutuhkan waktu berbulan-bulan—seperti apapun Vita adalah bagian dari hidup mereka. Sahabat mereka sejak SMA.
Abi begitu terhanyut dengan nostalgia dalam kepala sehingga tidak menyadari seseorang duduk di depannya. Mungkin dia tidak akan peduli kalau tidak merasa diawasi.
Dahinya berkerut tatkala matanya menangkap sesosok asing memandanginya, “Siapa kamu?”
Orang yang ditanya tersenyum ramah. Menunjukkan gigi putih terawat di balik bibir pucat perokok. Membuat kerutan di dahi Abi bertambah memikirkan kombinasi aneh gigi terawat dan perokok—mengabaikan sebutir gigi geraham depan sebelah kanan yang hilang dari tempatnya.
“Abdiel,” suara maskulin menelusup ke dalam telinga Abi ketika orang itu berbicara. Membuat hati gadis itu bergetar. Terlebih suara itu jenis favoritnya, berat dan berwibawa.
“Abdil?” ulang Abi berusaha tak kehilangan kewarasan.
“Abdiel. Namaku Abdiel,” jelas orang itu.
“Oke Abdiel!” Abi berdehem sebentar. “Ada perlu apa?” tanyanya, lalu mengernyit menyadari kalimat itu seperti kalimat hafalan seorang informer di balik meja informasi.
“Ayo menikah!” ajak Abdiel sukses membuat dada Abi berdesir, mata melotot, dan napasnya tertahan.
“Apa kamu peserta reality show?” tanya Abi setelah kembali menguasai diri. Matanya melirik kanan dan kiri, lalu depan dan belakang, kemudian atas dan bawah mencari kamera tersembunyi.
Abdiel tersenyum melihat tingkahnya, membuat dagu yang ditumbuhi bulu kasar sampai dekat telinga itu terlihat manis menggoda. Bibir bawah yang lebih tebal dari bibir bagian atas seperti memanggil untuk disentuh. Abi langsung menggelengkan kepala agar terbebas dari ikatan pikiran liarnya.
“Usiaku 35 tahun dan sedang butuh istri,” ujarnya mengacuhkan pertanyaan Abi.
Mata Abi mengerjap berulang kali. Hilang sudah ketenangan yang sejak tadi dipertahankan. Ini gila!
“Maaf, tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian dari sana,” Abdiel menunjuk satu meja tepat di belakang Abi.
Abi mengikuti arah telunjuk Abdiel, lalu merutuk setelahnya. Ini bodoh!
“Bukankah aku cukup layak untuk dipertimbangkan?”
Ya, tentu saja! Setelah beberapa hal yang merusak konsentrasi Abi tadi ditambah hidung mencuat proposional sebagai pelengkap—kembali mengabaikan sebutir gigi geraham depan sebelah kanan yang hilang dari tempatnya—secara fisik Abdiel sangat layak. Tapi ini aneh untuk dianggap serius.
“Pikirkan saja lebih dulu,” lanjut Abdiel melihat Abi yang tak kunjung merespon. “Jika kamu setuju, kita bisa bertemu beberapa kali agar saling mengenal sebelum lamaran. Kamu bisa menghubungiku di sini,” Abdiel memberikan kartu namanya. “Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa lagi!”
Sekali lagi Abdiel memberikan senyuman manis sebelum pergi meninggalkan Abi yang masih terbengong-bengong.
***

               Sepeninggal Abdiel, Abi masih linglung beberapa saat sebelum kedua tangannya menepuk pipi; memastikan bahwa kejadian tadi bukan mimpi atau hayalan semata. Tapi kartu nama yang tergeletak di atas meja terlihat sangat nyata.
Takut-takut abi meraih benda itu. Dia bisa memegangnya! Berarti memang bukan mimpi.
Dia tidak ingin mempercayai peristiwa tadi. Bagaimana mungkin seorang lelaki tak dikenal dengan gampangnya mengajak menikah? Apa lelaki itu pikir menikah seperti bermain rumah-rumahan. Mungkin lelaki itu penggemar sebuah reality show pernikahan simulasi. Atau terlalu banyak bermain pacar simulasi yang ada di PS2.
Bisa jadi lelaki itu memiliki penyakit berat seperti kanker dan semacamnya sehingga divonis hanya memiliki waktu beberapa bulan untuk hidup. Jadi dia ingin menikmati pernikahan sebelum meninggal. Siapa tahu dia akan gentayangan kalau meninggal dalam keadaan bujang.
Bisa juga orang tua lelaki itu yang sekarat sehingga ingin melihat anaknya menikah sebelum meninggal. Jadi mencomot siapa saja yang ingin menikah untuk mewujudkan harapan terakhir itu.
Atau ... Abi menggeleng-gelengkan kepala menghentikan otaknya yang sedang menerka-nerka. Semakin memikirkan itu, praduga Abi semakin berkembang tanpa batas.
Dia memanggil pelayan untuk membungkus cheescake yang belum sempat di makan. Bertahan di sana hanya membuat kepalanya pusing. Lebih baik dia pulang dan beristirahat dan memikirkan ini dengan kepala dingin, juga akal sehat.
Gadis ini segera beranjak dari duduk ketika pelayan megantarkan bungkusan cheesecake tadi. Masih berusaha meghalau otaknya yang tetap berpraduga dia pun melangkah pulang.
***

 Bersambung