Sabtu, 21 Juni 2014

CHEESECAKE, TEASET, AND CEREAL; CHEESECAKE 4



Pagi minggu yang cerah Abi sudah sangat rapi memakai terusan hitam, kerudung warna abu-abu gelap, dan  kemeja besar warna kuning. Dia duduk gelisah di depan televisi. Sesekali melirik jam tangan, lalu melihat pintu depan, kemudian kembali menonton. Begitu hingga beberapa kali.
“Kalau begitu terus kamu bisa pusing kepala, Bi!” tegur Naomi yang juga sudah rapi.
Abi mesem. “Sudah mau pergi? Bukankah biasanya jam 10? Ini baru jam 8.30.”                
“Iya, nih! Ada acara di gereja, jadi harus datang lebih pagi,” jawab Naomi sambil memasang sandal tumit tingginya. “Thanks sarapannya, Bi. Nasi gorengnya enak.”
Abi mengangguk sembari tersenyum.
“Ah, iya! Sukses, ya! Walau kecewa kita tidak bisa jadi saudara ipar, tapi aku senang kamu punya pilihan sendiri.”
Abi sudah menceritakan tentang Abdiel pada Naomi dan Vita. Juga tentang rencana Abdiel ingin membawanya pergi minggu ini setelah minggu lalu mereka berkenalan dengan benar.
Abdiel sempat membuatnya tersentuh juga bingung. Lelaki itu tidak meminta atau memberi nomor telepon yang bisa dihubungi. Tidak juga memberi atau meminta alamat email. Abdiel hanya mengantar—lebih tepat mengiring—nya sampai kontrakan hari itu. Kemudian berkata akan menjemput minggu pagi berikutnya—hari ini.
Namun, ada satu kata Naomi yang mengganggunya sekarang. “Saudara ipar?”
“Iya, saudara ipar.”
Abi tidak bisa menutupi ketidakpahamannya. “Maksudmu?”
“Arlon si kandidat terakhir itu kakak Suni,” jelas Naomi semangat. “Kalau kamu berubah pikiran katakan saja. Aku akan senang sekali jika kita benar-benar menjadi saudara ipar.”
Abi senyum setengah hati. Berubah pikiran untuk lelaki sok sibuk seperti Arlon? Terima kasih, tapi dia tidak berminat. Apalagi tahu itu kakaknya si Abusiver. Pantas saja Abi merasa wajah Arlon tidak asing. Ternyata mirip Suni.
“Tidak. Tapi terima kasih sudah membantuku mencarikan kandidat sebulan ini,” ucap Abi tulus.
“Itu gunanya sahabat, ‘kan?” Naomi langsung berdiri. “Aku pergi dulu,” ucapnya sembari mendekati Abi dan menempelkan pipinya kiri dan kanan. “Semoga hari ini menyenangkan.”
“Kamu juga,” balas Abi. “Hati-hati!”
“Oke!” Naomi melambaikan tangannya sebelum menghilang di balik tembok pembatas ruang tengah dan ruang tamu.
Abi menghela napas. Melirik jam tangannya lagi sebelum fokus pada siaran berita di salah satu channel televisi nasional. Ini terasa lama dan menjengkelkan.
Nggg, Bi!” tiba-tiba kepala Naomi menyembul dari balik dinding pembatas.
“Ada yang tertinggal?” tanya Abi heran melihat sahabatnya ini berbalik.
“Tidak, tapi ...”
“Hai!” sapa seseorang dari belakang Naomi.
“Aa’!” Abi kaget lebih kepada penampilan Abdiel yang memukau dengan sweater rajut gradasi warna coklat muda ke gelap dan celana jeans hitam.
“Yak, begitulah! Jemputanmu sudah datang. Aku ingin memberitahukan itu tadi,” ujar Naomi menyadarkan Abi dari keterpanaan. “Aku pergi!”
Sekali lagi Naomi pamit setelah memberikan komentar lewat bisikan jauh—yang membuat Abi memutar bola mata—berbunyi, “Dia tampan!”
Abdiel berdehem mencuri perhatian Abi. “Aku pikir akan menunggumu bangun dan mandi terlebih dulu, ternyata kamu sudah sangat siap.”
Abi mencibir. “Salah siapa yang hanya menyebut kata pagi tanpa jam yang pasti?”
Lelaki ini tersenyum sambil menatap Abi dari jauh. “ Aku tidak tahu bahwa kamu begitu antusias dengan ajakan pergi itu. Dan aku senang mengetahuinya.”
“Ini bukan karena antusias!” sanggah Abi berbohong. Dia malu mengakui kebenaran kalimat Abdiel. “Aku memang terbiasa bangun pagi, mandi, dan berpakaian rapi meski hari minggu sekalipun.”
“Benarkah?” Abdiel sengaja memperdengarkan nada takpercaya. “Itu kebiasaan yang baik.”
Abi memutar bola mata mendengar sindiran halus itu. “Apa kamu mau berdiri di sana terus?”
Sejak tadi Abdiel belum beranjak dari jalan masuk antara ruang tengah dan ruang tamu. “Apa aku boleh masuk?”
“Tidak,” jawab Abi setelah berpikir cukup lama. Mereka bertemu baru dua kali. Meski sudah berkenalan bukan berarti dia mempercayai Abdiel. Mempersilahkan Abdiel masuk ke ruang tengah dan ikut menonton televisi bukan pilihan yang baik. Terlebih mereka hanya berdua. Vita sudah berangkat kerja sejak pukul tujuh. “Lebih baik kita langsung pergi.”
Gadis ini bergerak memeriksa pintu dan jendela. Kemudian memeriksa isi tasnya sebelum meraih kunci sepeda motor di atas meja. Dia siap.
“Sepertinya kamu tidak perlu kunci itu hari ini,” kata Abdiel sambil menunjuk kunci yang Abi pegang. “Aku tidak rela jika harus seperti kemarin. Membiarkanmu membawa sepeda motor dan aku hanya bisa mengekor dari belakang.”
Abi langsung bersikap waspada. “Terima kasih, tapi aku merasa lebih aman berkendara sendiri.”
“Sekarang sedang musim hujan. Bagaimana kalau tiba-tiba turun hujan?” Abdiel berusaha memaksa.
“Aku bawa mantel,” jawab Abi.
“Kamu membuatku seperti lelaki yang tidak bertanggung jawab kalau membiarkanmu melakukan itu.”
“Maaf, tapi aku harus.”
“Apa yang kamu khawatirkan?” tanya Abdiel yang melihat kegusaran Abi.
“Kita ...” Abi ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
“Kita?”
Gadis ini menghela napas berat. “Maaf, aku belum percaya denganmu. Kita baru kenal. Mana tahu kamu akan membawaku ke pelabuhan dan menjualku ke luar negeri. Kamu hanya mengajakku pergi tanpa menyebutkan tempat sama sekali.”
Abdiel terpaku sebentar sebelum tergelak.
“Tidak lucu!” ucap Abi langsung mencebikkan bibir.
Sorry,” Abdiel berusaha menghentikan tawa. “Aku hanya berpikir kerja otak kirimu menakjubkan. Minggu kemarin mencurigaiku sebagai penderita AIDS dan hiper-seks. Sekarang sebagai penjual manusia. Analisis dan perkiraan. Logikamu aktif sekali.”
“Kamu menyindirku!” ujar Abi taksenang. “Aku sadar kalau mudah cemas dan sering menaruh curiga pada orang lain, tapi kamu tidak perlu menyindir.”
“No! Tidak Abi, aku memuji.”
Abi berdesah takpercaya.
“Oke, sorry kalau kalimatku melukai egomu. Aku tidak bermaksud begitu,” Abdiel berusaha memperbaiki suasana. “Kamu tetap pergi denganku. Tenang saja, kita tidak berdua. Jadi, kamu bisa bernapas lega.”
Abi menjengkit. “Kamu membawa teman untuk menculikku?!”
Abdiel menepuk dahinya frustasi. Tangannya mengacak rambut, bingung.
“Ayo keluar! Kuperkenalkan kalian agar kamu merasa aman,” putus Abdiel akhirnya setelah berpikir sembari memberi kode pada Abi agar ikut keluar.
Abi mengekor hati-hati. Berhenti di teras ketika takbisa melihat siapapun yang ada di dalam mobil. Dia baru menyadari mobil Abdiel menggunakan kaca gelap.
Dahinya berkerut. Memangnya masih boleh menggunakan kaca gelap untuk mobil di Indonesia? Pikiran-pikiran negatif kembali berkumpul dalam otak.
“Kemari!” panggil Abdiel.
“A-aku di sini saja,” tolak Abi.
“C’mon, Abi!”
Abi menggeleng tegas.
Abdiel terlihat kecewa, tapi dia tidak memaksa lagi. Tangannya membuka pintu penumpang, membuat Abi waspada dengan memasang kuda-kuda aneh. Kemudian dengan kedua tangannya menarik sesuatu dari dalam mobil. Abi semakin siaga. Dan ....
Abi membelalak mendapati apa yang ada di gendongan Abdiel sekarang. Telunjuknya mengacung ke arah Abdiel. “Kamu seorang penculik bayi?!”
Tertular kebiasaan Abi, Abdiel memutar bola mata. Dia tidak mengerti otak Abi terus saja berpikir kreatif memberikan tuduhan.
Pelan dia membawa bayi laki-laki itu mendekat ke tempat Abi berdiri. Sedangkan Abi mundur selangkah ketika Abdiel dan si bayi sudah berhenti dihadapannya. Dia tidak ingin dikira sebagai komplotan penculik.
“Atila, salim tangan tante!” ujar Abdiel bicara pada bayi tersebut.
Si bayi menatap wajah Abi yang kebingungan dengan malas. Lalu memalingkan wajah, meletakkan pipinya di bahu Abdiel. Kedua tangannya memeluk leher lelaki itu.
Sebagai wanita yang ingin menikah dan penyuka bayi, Abi merasa kecewa melihat bayi yang dipanggil Atila itu berpaling. Pantang baginya dipandang musuh oleh seorang bayi. Seketika kewaspadaannya langsung menghilang.
“Hai, Atila!” sapa Abi bergerak ke depan pandangan Atila.
Abi sengaja tidak menyentuh Atila. Menurut pengalaman merawat Qori, anak kakaknya. Bayi akan lebih dulu menyapa dengan sentuhan kalau dia sudah merasa aman. Jika kita gegabah menyentuhnya malah membuat bayi semakin waspada dan menjauh.
Atila memandang Abi lagi sebelum menyembunyikan wajahnya di bahu Abdiel. Beberapa detik kemudian mengintip dan mendapati wajah Abi yang tersenyum. Lalu, menyembunyikan wajahnya lagi.
“Sepertinya dia malu,” ujar Abdiel melihat tingkah Atila. “Atau mungkin karena baru bangun tidur jadi kurang bersemangat.”
Abi mengangguk. “Mau duduk dulu?”
“Kami boleh masuk?” tanya Abdiel memastikan.
“Tidak,” geleng Abi. “Duduk di situ saja.” Abi menunjuk kursi yang ada di teras.
Tanpa mengatakan apapun Abdiel langsung menuju ke sana. Dia mengambil posisi yang nyaman sebelum mendudukkan Atila dipangkuannya.
“Jadi, siapa Atila?” tanya Abi mengutarakan rasa penasaran. “Anakmu?”
“Menurutmu?” tanya Abdiel balik sembari menyeringai. Dia ingin sedikit bermain-main dengan rasa penasaran gadis ini.
Abi mengamati wajah Atila yang sedang bermain dengan jari telunjuk Abdiel. “Tidak mirip denganmu. Lebih kepada wajah pribumi. Tapi siapa tahu? Bisa jadi wajah Atila mirip istrimu.”
Abdiel tersenyum miring. “Iya, dia mirip ibunya.”
Abi mengamati wajah Abdiel takyakin. “Jadi benar Atila anakmu?”
“Bisa dikatakan begitu,” jawab Abdiel santai sambil mengusap kepala Atila yang berkeringat.
Hati Abi mencelos. Kekecewaan tumbuh di dalamnya. “Mana ... ibunya?”
“Sedang pergi,” lagi-lagi Abdiel menjawab dengan santai. Malah terkesan sibuk berusaha mendengarkan celoteh Atila yang seperti bisikan.
Abi menelan ludah membasahi kerongkongannya yang kering.  Ada nyeri di sana, di ulu hati. Abdiel ternyata sudah menikah dan punya anak. Lalu apa maksud tawaran pernikahan itu?
“Ngg ... Aku ... Akan kubuatkan teh!” seru Abi langsung berdiri cepat. Dia harus masuk ke dalam. Dirinya butuh tempat untuk menstabilkan emosi.
Cepat Abdiel menangkap sebelah lengan Abi yang tertutup tangan kemeja. “Tidak usah. Lebih baik kita segera pergi. Aku berjanji pada Ibu dan Ayah Atila untuk membawa anak mereka jalan-jalan.”
Abi terpaku berusaha mencerna ucapan Abdiel. Kemudian memutar tubuhnya menghadap lelaki itu. mulutnya mengatup rapat. Rahangnya tercetak jelas.
“Aku tidak berbohong,” ucap Abdiel sebelum Abi meledak. “Atila memang anakku. Anak angkat.”
Abi masih diam. Matanya garang menatap Abdiel. Tapi rengekan Atila menyiram emosi gadis ini. dia menarik napas dalam dan memejamkan mata. Lalu perlahan menghembuskannya.
Dia tidak boleh marah-marah di depan seorang bayi. Nasehat kakaknya yang mengatakan bahwa perasaan para bayi masih lembut dan sensitif terngiang-ngiang. Sejatinya gadis ini tidak ingin menjadi penyebab ketakutan bagi salah satu dari mereka.
“Baiklah, aku kunci pintu dulu.”
Abi menuju pintu dan menguncinya. Semua sudah beres kecuali satu masalah, Atila. Bayi itu belum mau menyentuh Abi sama sekali.
“Apa kamu akan memangku Atila sambil menyetir?” tanya Abi.
Abdiel menggeleng. “Coba kamu ambil dia dariku.”
Abi langsung mengulurkan kedua tangannya ke depan Atila. “Atila,” panggilnya, “ayo sama tante.”
Atila menatap tangan Abi. Bayi iti terlihat ragu. Lalu melirik pada Abdiel. Abdiel tersenyum dan mengangguk. Melihat itu Atila perlahan menaikkan tangannya, minta diambil.
Senyum senang terlihat di wajah Abi. Tanpa menunggu lagi diambilnya Atila ke dalam gendongan. Tangan bayi itu melingkar erat di lehernya. Abi langsung mengelus punggung Atila. Menyampaikan pesan bahwa bayi itu akan aman dan nyaman bersamanya.
Sepertinya Atila menerima maksud Abi. Bayi itu mulai rileks sekarang. Kepalanya pun mulai bersandar nyaman di bahu Abi.
“Kamu sudah seperti seorang ibu,” komentar Abdiel saat mereka berjalan menuju mobil.
“Aku memang calon ibu,” balas Abi setengah tertawa.
“Ya,” Abdiel membukakan pintu mobil untuk Abi. “Calon ibu anak-anakku.”
Abi naik ke dalam mobil secara hati-hati dengan Atila yang tetap dalam gendongannya. Kemudian duduk nyaman di samping kursi pengemudi. “Om-om yang terlalu percaya diri.”
Abdiel nyengir jail mendengar kalimat itu. Sebelum menutup pintu dia berkata, “Dan kamu suka om-om itu.”
Abi langsung memutar bola mata. Namun sebuah senyuman tidak bisa ditutupi muncul di wajah itu.
***
Bersambung....










CHEESECAKE, TEASET, AND CEREAL; CHEESECAKE 2



Abi duduk di sofa ruang tengah kontrakan sambil memandangi kartu nama Abdiel. Pulang dari cafe hanya salat Ashar sebentar lalu melakukan hal itu sampai saat ini. Bahkan masih memakai t-shirt putih, kemeja hijau besar, dan hijab berwarna hijau kotor yang sejak pagi dipakainya.
Matanya tak lepas dari benda persegipanjang itu sampai terdengar makian seseorang yang semakin lama semakin dekat. “Sialan!” ulang suara itu lagi bersamaan dengan munculnya sosok Vita yang terlihat kusut. T-shirt hitam kebesaran yang berantakan, rambut pendek mencuat, dan jeans belel penuh oli semakin menambah kusut penampilan gadis ini. “Dimana-mana yang namanya lelaki itu selalu bikin sial!”
Abi yang merasa terganggu melemparkan delikan terbaik. Namun Vita takpeduli sama sekali. Dia malah menghempaskan tubuhnya ke sofa samping Abi.
Taklama Vita memberikan tatapan meneliti pada Abi yang kembali sibuk menatap kartu nama ditangannya. Dia penasaran kartu nama siapa yang mampu membuat manusia cerewet seperti Abi menjadi bungkam.
“Apa itu?” tanya Vita seraya merampas kartu itu dari tangan Abi.
Abi melotot, “Vita, kembalikan!”
Tangannya berusaha merebut kembali barang itu dari tangan Vita. Tapi, tangkas Vita berusaha menghindar sambil berusaha membaca tulisan di sana.
“Abdiel,” bacanya keras, disusul tatapan mencemooh. “Lelaki.”
Kesempatan itu digunakan Abi mendapatkan kembali kartu nama Abdiel. Langsung dimasukkan ke dalam saku ketika kartu itu ditangannya.
“Kamu masih mengikuti ide konyol Naomi?” tanya Vita takpercaya.
Delikan sadis kembali diberikan Abi. Sejak awal Vita memang tidak setuju dengan ide Naomi yang berniat memperkenalkannya dengan beberapa lelaki. “Cerewet!”
Vita tergelak mengejek, “Berapa usiamu, Abi?”
“Ini bukan masalah usia!” sentak Abi gemas. “Ini tentang ketenangan jiwa,” lanjutnya. “Lagipula itu bukan kartu nama dari teman Naomi.”
“Cih! Gayanya ketenangan jiwa,” cela Vita. “Dimana-mana lelaki itu pembawa sial.”
“Memangnya tahu apa kamu tentang lelaki?” tanya Abi sarkastis.
Wajah Vita menegang, membuat Abi menyadari kekasaran kalimatnya. “Maaf Vita, aku ...,”
See! Lelaki itu pembawa sial. Hanya karena lelaki kamu bisa mengucapkan hal seperti itu padaku,” potong Vita. “Tadi seorang lelaki merepotkanku. Hampir membuatku dipecat. Sekarang lelaki membuat sahabatku berkata kasar.”
Vita menghentakkan kaki, melangkah menuju kamarnya. Di dalam otaknya kalimat “lelaki itu pembawa sial” bergema.
“Vita maafkan aku!” kejar Abi. “Aku tidak bermaksud mengatakan itu.”
Vita menghembuskan nafas keras sekaligus mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya. Kamar yang lebih berantakan dari kamar seorang lelaki tidak membuatnya terganggu. Dia menuju jendela, menghisap rokok itu dalam setelah dinyalakan. Mengharap sedikit ketenangan.
“Vit!” panggil Abi hati-hati dari depan pintu kamar yang terbuka.
Dia tidak bermaksud membuat Vita tersinggung. Kalimat tadi keluar spontan dari mulutnya.
“Sudahlah!” Vita mengusap wajahnya. “Aku juga minta maaf. Emosiku sedang tidak stabil.”
Abi diam, memperhatikan kondisi Vita. “Jadi, kamu hampir dipecat?”
Kepulan asap keluar sebelum Vita mengangguk, “Aku terlambat kerja karena menolong seorang lelaki yang kecelakaan.”
“Itu bukan alasan untuk dipecat, ‘kan?” alis Abi hampir bertaut heran. Dia berjalan ke dalam kamar, lalu duduk di kursi dekat jendela. “Apalagi kamu salah satu montir andalan Dealer tersebut.”
Vita mengangguk, “Seharusnya. Kalau pacaramu bukan boss disitu yang cemburu karena kamu menolong seorang lelaki, lalu menungguinya sebentar sehingga terlambat kerja.”
Tanpa sadar mulut Abi terbuka, “Pacar? Kamu ... dan boss-mu?”
Vita menyeringai, “Iya.”
“Kamu sudah kembali normal?” pertanyaan itu yang terlintas di otak Abi.
“Mana mungkin!” sanggah Vita cepat. “Lelaki itu pembawa sial. Aku tidak berminat berdekatan dengan mereka, apalagi pacaran.”
“Terus boss-mu?”
“Tentu saja perempuan.”
“Bagaimana bisa?” Abi terbengong takjub.
Mengetahui cita-cita Vita sebagai montir—kemudian gadis itu benar-benar menjadi montir—saja sudah membuat Abi takjub. Sekarang mendengar seorang wanita menjadi boss cabang salah satu dealer sepeda motor terkenal di Indonesia. Dunia saat ini sudah menjadi lahan pertempuran lelaki dan perempuan.
“Tentu saja bisa. Kalau tidak, bagaimana kami bisa pacaran?” Vita melengos, dan bergerak keluar kamar setelah menekan ujung rokok ke dalam asbak hingga padam.
Abi jadi penasaran, “Mana fotonya? Sini! Aku mau lihat.”
Dia mengikuti Vita yang menuju dapur. Ingin membuktikan kalau wanita itu sama gagahnya seperti Vita.
“Iuhh!” Abi bergidik ngeri melihat Vita menuang sereal ke dalam mangkuk berisi susu. “Mengapa harus sereal, sih? Sereal itu sarapan, bukan untuk makan malam.”
“Aku lapar,” jawab Vita sekenanya.
“Di dalam kulkas masih ada cheesecake. Daging sapi dan beberapa sayuran juga. Nasi pun masih di ricecooker.
“Ribet,” respon Vita malas, mulai menyuap serealnya.
Abi geleng-geleng kepala. Entah bagaimana mulanya, Vita dan sereal seperti pasangan yang sulit dipisahkan. Dimana ada Vita disitu ada sekotak sereal dan susu cair. Bukankah ada makanan yang lebih enak dari sereal yang bisa dijadikan sebagai favorit?
“Mana foto boss-mu itu? Tunjukkan padaku!” ujar Abi sembari duduk di kursi makan depan Vita.
“Bukannya tidak adil disaat kamu melarang sekedar membaca kartu nama, tapi malah memaksa untuk melihat foto pacarku?”
“Ayolah Vita!” rayu Abi. “Lagipula kamu sudah sempat membacanya.”
Vita memutar bola mata, namun kemudian tangannya bergerak mengeluarkan smartphone dari saku. Mengutak-atiknya sebentar sebelum memberikan pada Abi.
Abi menyambar smartphone itu cepat. Melihat ke layar yang di dalamnya terlihat foto seorang perempuan cantik. Pupilnya melebar takpercaya, “Kamu yakin kalau wanita ini penyuka sesama?”
“Tentu saja! Kalau tidak bagaimana mungkin kami pacaran,” jawab Vita sebal dengan pertanyaan Abi.
“Tapi dia begitu ‘wanita’. Tersentuh makeup dan perawatan,” Abi masih kurang yakin.
Vita berhenti menyuap sereal, “Ada masalah dengan makeup dan perawatan?”
“Naomi mengatakan kamu seperti sekarang ini,” mata Abi menatap Vita—yang kembali menyuap sereal—penuh arti ketika mengatakan itu, “karena tidak pernah tersentuh makeup dan perawatan.”
Vita berhenti mengunyah, menelan dengan cepat sebelum tertawa keras. “Dan kamu percaya?” tanyanya, kemudian kembali tertawa membuat Abi cemberut. “Aku tidak pernah berpikir kalau kamu sebodoh ini.”
“Tidak lucu!” seru Abi gemas.
Vita berusaha menahan tawa melihat wajah Abi yang tertekuk, “Setiap orang punya alasan sendiri atas jalan yang dipilih Abi. Mungkin, aku bisa dikategorikan sebagai yang tidak pernah tersentuh makeup dan perawatan. Tapi alasan menjadi ‘berbeda’ itu sangat banyak.”
Wajah Abi normal kembali. Malah terlihat berbinar. Vita menyadari akan menjadi panjang jika membiarkan Abi bertanya lebih lanjut. Ekspresi itu akan terlihat saat Abi ingin tahu detil tentang bahasan yang membuatnya tertarik.
“Jadi, mau cerita siapa itu Abdiel?” tanya Vita mengalihkan topik pembicaraan.
Wajah Abi memerah tiba-tiba. Dia menjadi gugup. Ah, dia malu untuk bercerita adegan aneh di cafe tadi siang.
“Hei, sepertinya dia orang yang spesial!” goda Vita.
“Bukan!” Abi menyanggah cepat. “Dia ... dia ....”
“Ayolah! Mengapa jadi gugup begitu?” Vita kembali menggoda.
Abi terdiam sesaat sebelum bertanya, “Apa menurutmu wajar seorang lelaki mengajak menikah seorang wanita yang belum dikenal sama sekali?”
“Wow!” Vita takjub, selanjutnya bersiul. “Pasti lelaki itu sakit jiwa.”
“Vita, aku serius!” Abi tidak senang mendengar jawaban Vita. Entah mengapa dia ingin mendengar sebuah dukungan.
“Aku juga,” ucap Vita. “Kamu pikir lelaki normal mana yang melamar wanita yang tidak dikenal sama sekali?”
Abi terdiam beberapa saat. “Memangnya lelaki normal akan melakukan apa?”
“Melakukan yang kulakukan,” jawab Vita mantap. “Jatuh cinta, melakukan pendekatan, lalu pacaran. Beberapa waktu pacaran, merasa yakin, baru melamar.”
Abi mendengus. “Itu bukan lelaki, tetapi banci!” sinisnya. “Kalau tidak, itu remaja putra yang belum berani mengemban tanggung jawab.”
Well, aku memang bukan lelaki,” balas Vita tidak tersinggung seperti tadi. Santai dia menyuap sesendok sereal lagi sebelum mengunyah sebentar dan menelan. “Tapi pastinya, dimana-mana sebuah hubungan itu perlu proses, Bi. Kamu tidak ingin salah pilih pasangan, ‘kan?”
Abi bersungut. “Apa tidak ada cara lain selain itu? Seleksi pasangan tidka harus pacaran, ‘kan?”
Vita menggedikkan bahu. “Trend di masyarakat kita ya pacaran.”
Abi mencibir. Dia benci dengan kebiasaan itu.
“Jadi, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Vita sedikit penasaran. “Menerima lamarannya?”
“Dia tidak melamar,” sanggah Abi. “Ah ...” dia terlihat berpikir, “mungkin itu bisa disebut lamaran. Tahu ah, bingung!”
“Terima saja,” saran Vita enteng.
Ish, tidak mau! Aku belum kenal dia. Tidak tahu bibit, bebet, bobotnya,” tolak Abi mentah-mentah. “Dia memang keren dengan mengabaikan sebutir gigi geraham depan yang tidak berada ditempatnya. Tapi itu tidak cukup. Mana tahu dia penderita AIDS yang sedang mencari mangsa. Atau mungkin playboy cap ayam kuntet yang sok kecakepan.”
“Sebutir gigi geraham depan yang tidak berada ditempatnya?” tanya Vita mengabaikan kalimat Abi yang lain sembarimeraih gelas berisi air putih disamping mangkuk sereal. “Maksudmu gingsul?”
“Bukan!” Abi menggeleng bersamaan dengan Vita yang meneguk air. “Hilang Vit, bolong, ompong. Gigi geraham depan kanan samping taring Abdiel itu tidak ada ditempatnya alias rongak.”
Hampir saja Vita menyemburkan air putih yang baru saja masuk dalam mulutnya. Tawanya meledak setelah meloloskan air putih masuk ke perut melalui tenggorokan.
“Serius?” tanyanya meyakinkan.
Abi mengangguk. Vita pun kembali tertawa membayangkan sosok Abdiel—yang entah seperti apa—tanpa gigi geraham depan.
“Pasti usia si Abdiel ini 80 tahun, ya? Kakek-kakek,” ejek Vita sebelum kembali tertawa.
“Sembarangan!” protes Abi taksenang Vita menjelek-jelekkan Abdiel. “Usianya baru 35 tahun. Masih segar-bugar. Masih gagah. Masih fresh, menarik,” Abi berhenti sebentar. “Well, abaikan rongaknya itu.”
Spontan Vita lagi-lagi tergelak, “Sepertinya sudah ada yang naksir di sini.”
“Siapa?!”
“Kamu.”
Ish, tidak!”
“Baiklah, baiklah!” Vita berlagak mengalah sembari bangkit dari duduknya.
“Mau kemana?” tanya Abi yang merasa percakapan mereka belum selesai.
“Mandi. Gerah.”
“Tapi kamu belum cerita tentang pacarmu itu”
Abi berusaha mencegah. Dia masih penasaran mendengar kisah Vita dan wanita cantik yang merupakan boss-nya Vita itu.
“Lain kali, deh! Aku capek, habis mandi mau tidur.”
Abi mendengus kecewa. Tapi dia tidak memaksa lagi. Sepertinya, bukan sekarang waktunya untuk tahu.
***

Malam sudah larut. Abi masih sibuk membuat soal ujian di depan televisi ketika Naomi pulang. Dua minggu lagi Ujian Akhir Semester di sekolah tempat dia mengajar akan berlangsung. Sebagai seorang guru, sejak kemarin dia mulai disibukkan oleh kegiatan membuat soal ujian. Terlebih, dia merupakan guru Matematika. Harus teliti dalam membuat soal dan kunci jawaban.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.15 malam, namun tidak terlihat raut kelelahan di wajah Naomi. Dia sumringah. Begitu gembira sampai-sampai menghampiri Abi hanya untuk bercipika-cipiki.
“Abi, aku senang sekali!” seru Naomi girang.
Kedua tangannya masih melingkar di leher Abi. Pelipis mereka bahkan saling menempel.
“Apa, sih?” Abi berusaha membebaskan diri dari pelukan Naomi. “Aku sedang sibuk Naomi.”
“Abi, aku senang!” Naomi tidak mengacuhkan keluhan Abi. “Suni sweet sekali hari ini. tadi kita masak bersama, lalu makan malam romantis di kontrakannya.”
“Cih, apanya yang romantis hanya makan malam berdua di rumah? Kontrakan pula,” cela Abi.
Naomi langsung melepas pelukannya, “Romantis Abi. Sebagai programmer, Suni biasanya terlalu sibuk di depan komputer. Dan tadi dia menyempatkan diri menemaniku memasak. Kyaaa ... Itu romantis!”
Abi mencibir. Tetapi Naomi tidak peduli. Dia malah asik melanjutkan cerita.
“Pulang dari kontrakan Suni, aku menemukan kedia teh baru. Kamu tahu, Bi?”
“Tidak,” sambar Abi.
“Abi gitu deh!” Naomi kesal Abi memotong kalimatnya. “Kedai teh itu kecil, Abi. Tapi varian teh yang tersedia banyak. Ya Tuhan! Akhirnya aku menemukan juga kedai teh yang menarik.”
Abi memutar bola mata melihat ekspresi Naomi yang mulai berlebihan, “Memangnya Suni betah berlama-lama di kedai teh?”
Naomi menggeleng, “Aku ke sana sendiri.”
“Jadi kamu pulang sendiri?!” Abi kaget. “Semalam ini?”
“Dih, Abi! Ini belum jam 12 malam. Lagipula aku sudah besar, udah dewasa. Usia kita sama-sama 23 tahun.”
Abi menghela nafas, “Mengapa tidak diantar Suni?”
“Dia sibuk Abi. Tadi juga masih harus menyelesaikan pekerjaan,” bela Naomi. “Selain itu kami pacaran sudah empat tahun, Bi. Sudah saling mengerti dan memahami.”
Reflek Abi mengecimus, mual mendengar kalimat Naomi. “Sok memahami iya. Hubungan kalian itu berjalan satu arah tahu. Nyatanya selalu kamu yang harus mengerti Suni.”
“Jangan mulai, Bi. Aku tidak mau kita bertengkar dengan bahasan yang sama.”
Abi menarik napas panjang, kemudian mengeluarkannya berat. “Aku tidak akan pernah bosan mengatakan kalau kamu butuh kandidat baru Nao. Apa kamu tidak lelah?”
Naomi terdiam. Tidak lama sebelum ekspresinya ceria kembali, “Aku sudah memberitahu kandidat terakhir. Lusa kalian bisa bertemu pas makan siang. Di cafe yang tadi.”
Abi menghela napas sadar kalau Naomi berusaha melarikan diri, “Baiklah. Terima kasih.”
“Oke,” Naomi mencuil dagu Abi, “aku duluan. Mau mandi dan istirahat.”
Abi mengangguk dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. Naomi balas tersenyum, lalu beranjak masuk kamar.
Abi memijat dahinya pelan. Dia khawatir dengan masa depan Naomi bila masih bersama Suni. Dia tidak ingin lagi melihat air mata Naomi jatuh karena lelaki itu. Dia juga tidak mau melihat lebam yang kadang membekas di kulit Naomi karena dipukul. Tapi apa yang bisa dia perbuat jika Naomi sendiri yang tidak mau bebas?
Gadis ini menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan. Bukan saatnya memikirkan nasib orang lain. Dia harus menyelesaikan pembuatan soal dan menyiapkan diri untuk lusa. Ya, dia punya kehidupan sendiri yang harus lebih diperhatikan.
***

Abi melirik jam tangannya. Hari minggu siang ini begitu panas. Dia sudah meminum dua gelas es lemon tea, tapi kandidat terakhir dari Naomi itu belum terlihat. Padahal waktu telah berlalu 30 menit dari jam janji temu.
Gadis ini menyuap cheesecake-nya. Bersyukur ini hari minggu, jadi dia punya banyak waktu untuk menunggu. Lagipula suasana cafe ini nyaman, membuat betah untuk berlama-lama duduk diam menikmati pesanan.
“Sorry saya telat,” sapa sebuah suara yang pemiliknya langsung duduk di depan Abi.
Abi mendongak dan langsung mendapati wajah sederhana lelaki mapan. Tidak buruk. Cukup menarik dan rapi. Wajahnya sedikit mengingatkan Abi dengan seseorang, tapi dia lupa siapa.
“Saya harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditunda meski hari minggu sekalipun,” lanjutnya sebelum melambai, memanggil pelayan.
Abi mesem. Dia langsung tak berminat mendengar penjelasan itu. Lelaki sibuk, huh!
“Namamu Abi, ‘kan?” tanya lelaki itu setelah memesan. “Kamu menarik. Persis seperti deskripsi Naomi.”
“Terima kasih,” ucap Abi berusaha sopan.
“Saya dengar kamu seorang guru, ‘kan?” tanyanya. Akan tetapi, belum sempat Abi menjawab lelaki itu sudah berkata lagi, “Mengapa tidak menjadi sekretaris saja seperti Naomi? Pasti seru kalau kamu jadi sekretaris pribadi saya.”
Abi mengernyit taksenang. Dia sudah akan mengatakan sesuatu saat pesanana lelaki itu datang. Mendadak Abi merasa lega. Sementara waktu ada yang menyumpal mulut lelaki itu agar tidak berbicara lebih banyak. Abi takut dia tidak bisa menahan diri untuk menendang orang di depannya ini ke luar cafe.
“Naomi bilang namamu Arlon, ‘kan?” kali ini Abi berusaha mengambil alih pembicaraan.
Lelaki itu mengangguk, sambil tetap mengunyah. Abi tersenyum samar memikirkan banyak waktu untuknya memegang kendali.
“Usiamu 31 tahun, ‘kan? Usia yang menarik.”
Lelaki yang bernama Arlon itu tersenyum bangga.
“Tapi mengapa orang sepertimu belum menikah?” tanya Abi sengaja. “Itu sedikit aneh.”
Arlon mempercepat kunyahannya sebelum menelan dan menjawab, “Terlalu banyak wanita matre di dunia. Mereka mendekati saya hanya untuk uang dan berselingkuh di belakang.”
Abi kasihan mendengarnya. Sayangnya, bukan rasa kasihan yang membuat tersentuh atas kemalangan Arlon. Tapi kasihan karena lelaki itu tidak sadar kalau hampir penyebab hancur hubungan itu pasti karena dirinya sendiri.
“Perhatian seperti apa yang kamu berikan kepada mereka?” tanya Abi berusaha terdengar simpati.
“Saya terlalu sibuk, tapi saya berusaha memenuhi kebutuhan belanja mereka. Dan berusaha meluangkan waktu sebanyak yang saya bisa,” jawab Arlon sebelum meneguk minumannya.
See! Abi tahu lelaki ini terlalu sibuk dengan urusannya sendiri dan ingin pasangannya selalu mengerti. Persis sama seperti Suni pacar Naomi. Maaf saja, dia tidak ingin terjebak dalam masalah yang sama.
“Jadi, kamu sudah lelah dengan itu semua. Karena itu memutuskan untuk serius dengan menerima pertemuan kita ini,” tebak Abi.
Arlon tergelak, “ Saya selalu serius Abi. Mereka saja yang tidak menghargai keseriusan itu.”
Abi mencela dalam hati. Serius, tapi hanya menjejali pacarnya dengan uang. Lalu setelah putus dengan santai bilang kalau wanita sekitarnya terlalu matre.
“Jujur, aku sedang mencari calon suami. Apa kamu bisa menikahiku dalam waktu dekat, seandainya kita berdua cocok?”
Arlon tergelak lagi, “Tidak secepat itu Abi. Kita baru bertemu sekali. Saya belum terlalu mengenal dirimu. Mungkin kita bisa memulai dengan berpacaran beberapa waktu untuk melihat kecocokan itu.”
“Kalau begitu ...”
Kalimat Abi terpotong oleh dering telepon dari saku Arlon. Lelaki itu segera menjawab panggilan. Setelah berbicara sebentar dia menatap Abi menyesal, “Maaf, saya harus segera pergi. Masih banyak hal yang harus saya selesaikan hari ini. senang berjumpa denganmu, Abi. Saya harap kita bisa mengatur waktu untuk bertemu lagi.”
Abi hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Arlon. Lain kali dengan lelaki seperti ini? Terima kasih, dirinya tak berminat.
Arlon pun pergi. Abi menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Dia lelah.
Cheesecake terlihat tidak menarik lagi. Begitupun es lemon tea. Dia sibuk merutuki lelaki yang seperti apapun sama saja. Hanya mengambil keuntungan dari perhatian wanita tanpa ingin repot terkekang dalam suatu ikatan.
Bisa jadi dia terdengar egois. Tapi tidak baginya. Dia hanya ingin mencari pendamping hidup serius, yang tidak memanfaatkan situasi. Seorang lelaki yang berkomitmen dan bertanggung jawab. Apa itu begitu sulit sekarang ini?
“Kecewa, hum?” tanya sebuah suara dari belakangnya.
Seketika Abi menoleh. Matanya melotot mendapati seseorang yang ingin dia geser dari otaknya duduk manis di sana, tepat di kursi belakangnya.
“Kamu!?”
....
***
Bersambung....












CHEESECAKE, TEASET, AND CEREAL; CHEESECAKE 3



Abi tak ingin percaya, tapi wajah itu tepat di depan mata. Bibirnya terasa dingin. Pasti warnanya berubah pucat. Pinggang yang mulai sakit karena tubuhnya memutar waktu menoleh kebelakang terabaikan. “Mengapa kamu disini?”
Untuk kedua kalinya pada waktu yang tidak lama Abi menoreh sejarah memalukan dalam hidup. Dua kali, orang yang sama memergokinya saat sedang mempermasalahkan tentang pendamping hidup. Dua kali kebetulan yang sangat sempurna.
               Kebetulan?
Rasa curiga kemudian muncul dengan praduga-praduga yang sambung-menyambung. Siapa Abdiel? Mengapa mereka harus bertemu di tempat yang sama dalam posisi yang hampir sama? Apa lelaki ini mengikutinya?
Senyum gigi terawat memesona meski sebutir gigi seri dekat taring tak terlihat disana tidak mengurangi kharisma pemiliknya. “Ini tempat umum, setahuku,” jawab Abdiel santai membuat Abi ingin menimpukkan tas tangan yang dia bawa ke wajah itu. “Aku biasa makan siang di sini.”
Mata Abi memicing, “Ini kebetulan yang mencurigakan.”
Abdiel tersenyum miring, “Apa kamu percaya tidak ada kebetulan di dunia?”
“Maksudmu? Kamu sengaja mengikutiku, begitu?” tebak Abi percaya diri.
Sebelah alis Abdiel terangkat tinggi seolah berkata “siapa kamu sehingga perlu kuikuti” membuat Abi mencebikkan bibir. Lalu lelaki ini tersenyum misterius. “Bibir itu menarik.”
Abdiel mengatakan ini sekaligus menunjuk pada hal yang dimaksud. Abi langsung memberikan pelototan kesal dengan tangan langsung mengayun tas ke wajah Abdiel.
Abdiel berusaha menepisnya, namun Abi mengulang beberapa kali sehingga lelaki ini pasrah. “Apa kamu tidak tahu kalau itu pelecehan? Dasar lelaki kurang ajar!”
“Hei, hei, hei, don’t be rude, dear!” tangan Abdiel menahan tas Abi ketika merasa mereka mulai jadi tontonan. “Aku tidak mau kita berdua masuk berita di televisi dan koran dengan headline berjudul Merasa Dilecehkan Seorang Wanita Cantik Melakukan Penganiayaan.
Abi mendengus, menghentikan aksi sekaligus memperbaiki duduknya. Efek memutar badan membuat pinggangnya semakin sakit. “Itu terlalu bagus. Akan lebih baik kalau judulnya ABG Tua Digebuk Karena Melakukan Pelecehan.
Abdiel tergelak, “ABG tua, ya? Sound good! Berarti aku masih terlihat cukup muda.”
Abi berdecak sebal, kembali duduk membelakangi Abdiel sembari tangannya terlipat di depan dada. Abdiel mengambil kesempatan itu untuk pindah, duduk di meja yang sama dengan Abi.
“Kamu itu menyebalkan,” ujar Abi langsung memalingkan muka.
Abdiel tersenyum tipis, memandangi wajah cemberut Abi yang terlihat lucu. Dia terus begitu sampai Abi merasa jengah
“Apa?” bentak gadis ini.
“Apa penawaranku kurang menarik sehingga kamu masih perlu melakukan pertemuan dengan lelaki lain?” tanya Abdiel tak menyiakan kesempatan setelah mendapatkan perhatian Abi kembali.
“Aku tidak mengenalmu!” sentak Abi dengan pandangan tajam menatap Abdiel lurus.
“Karena itu, ayo kita kenalan,” balas Abdiel santai.
Abi berdecak, kembali memalingkan muka. “Aku tidak mau.”
“Mengapa?”
Abi mendelik. “Apa harus memiliki alasan?”
“Tentu saja. Setiap hal mempunyai alasan,” jawab Abdiel realistis.
“Kalau begitu, katakan apa alasanmu tiba-tiba menawariku sebuah pernikahan?” todong Abi.
“Apa aku harus?” tanya Abdiel seakan sedang mengambil keputusan sulit.
“Tentu saja. Setiap hal mempunyai alasan,” balas Abi menirukan kalimat Abdiel sebelumnya dengan niat menyindir.
Abdiel mengubah posisinya. Kaki menyilang dengan kaki kanan di atas kaki kiri. Tubuhnya mundur kebelakang sehingga menyentuh senderan kursi. Jari telunjuk kanan mengetuk meja berirama. Sedangkan tangan kiri berada di atas kepala kursi, menumpu dagu. Terlihat meyakinkan sedang berpikir keras.
Abi memutar bola mata mencela melihat posisi Abdiel yang menurutnya terlalu dramatik. Hal ini membuat Abi berspekulasi kalau Abdiel memunyai alasan negatif dibalik penawaran itu.
“Jangan-jangan kamu pengidam AIDS, ya?” serang Abi. “Atau seorang hiperseks yang perlu istri agar bisa ditunggangi kapan pun kamu butuh?”
Alis Abdiel naik sebelah, “Diagnosismu seram sekali! Apa aku sebegitu mencurigakannya?”
“Mana aku tahu. Ini kan hanya sekedar spekulasi,” ketus Abi. “Lelaki sepertimu ...” Abi menghentikan kalimatnya memandang Abdiel, “sedikit sulit dipercaya belum menemukan pasangan hidup diusia 35.”
Abdiel tersenyum, “Aku anggap itu pujian.”
Abi kembali memutar bola mata.
“Kalau kujawab tidak mudah menemukan pasangan hidup yang cocok, apa kamu percaya?”
“Tidak,” geleng Abi.
“Mengapa?”
“Nyatanya kamu berani menawariku sebuah pernikahan padahal kita tidak saling megenal sama sekali. Jadi menurutku, kamu bukan tipe lelaki pemilih.”
“Hmm,” sikap duduk Abdiel sudah kembali santai dengan kedua tangan terlipat di depan dada, “bagaimana kalau kubilang sudah bosan hidup membujang? Jadi aku menemukanmu ketika hasrat berumahtangga itu muncul.”
Abi manggut-manggut, “Cukup masuk akal, walau tetap saja terbilang nekat.”
Abdiel menggelengkan kepala, “Ini bukan nekat. Kita bertemu di tempat dan saat yang tepat. Kita sama-sama ingin menikah, dan kita bertemu.”
Abi tercenung mendengar ucapan Abdiel. Benarkah?
“Lalu, sekarang kita sudah boleh berkenalan?” tanya Abdiel membawa Abi ke topik semula.
“Hah?”
“Baiklah, aku saja yang lebih dulu memperkenalkan diri,” ujar Abdiel yang menyadari Abi sedang tidak fokus. “Namaku Abdiel Ghani Ariqin. Kamu bisa memanggilku Abdiel, Abdi, Diel, dan Ghani. Ariqin nama keluarga. Sedikit informasi Abdiel itu bukan nama favorit Ibuku. Beliau lebih senang memanggilku Abduh atau Abdu.”
“Mengapa?” tanya Abi sedikit penasaran. “Bukankah Abdiel nama yang bagus?”
“Memang bagus. Artinya hamba Tuhan. Tapi, aku sering dikira non muslim karena nama itu berasal dari bahasa Ibrani.”
“Kalau begitu, mengapa tidak ganti nama?”
“Nama itu pemberian kakek dari ayah. Ayah tetap menggunakannya untuk menghormati beliau.”
“Ayahmu mualaf?”
“Bisa dikatakan begitu.”
Abi manggut-manggut. “Om Abdu bagaimana? Sepertinya keren memangilmu begitu. Juga menghargai ibumu.”
Abdiel menggeleng. “Tidak. Kamu calon istriku, jadi jangan panggil om, paman, dan sebutan lainnya yang menjurus. Itu akan memberi kesan kalau kamu memiliki calon suami umur setengah abad.”
Abi tergelak. “Percaya diri sekali! Aku belum menerima tawaranmu.”
“Kita sedang menuju ke sana,” balas Abdiel yakin.
Abi mencibir. “Baiklah! Aa’ saja, diambil dari huruf depan namamu. Tidak ada penawaran lagi.”
Sound good! Itu terdengar lebih mesra,” ucap Abdiel puas. “Oke, lanjut! Aku lahir di Jakarta, 20 Juni 1977. Tinggal di Jakarta sampai SMA, lalu pindah ke sini sampai sekarang. Suku campuran—India, Arab, dan Jawa. Bekerja sebagai pengusaha mebel. Sekarang masih tinggal di rumah orang tua. Dan orang tua hanya tinggal Ibu. Ayah meninggal lima tahun lalu.”
Reflek Abi mengucap kalimat istirja’, Inna Lillahi wa inna ilaihi raji'un. “Aku turut berduka cita.”
“Terima kasih,” ucap Abdiel dengan senyum lembut memesona.
Jantung Abi berdetak kencang melihat itu. Abdiel sempat beberapa kali memesonanya, tapi kali ini begitu berpengaruh.
“Mulai naksir, hum?” goda Abdiel yang melihat Abi terpana.
Abi langsung merubah ekspresinya sebelum membantah. “Tidak.”
Abdiel tertawa. “Bukannya lebih baik kalau kamu naksir.”
“Hoh!?”
Abdiel tertawa lagi melihat ekspresi kaget setengah mencela yang terlihat di wajah Abi. Sepertinya, dia tidak bosan menanti ekspresi aneh lain yang bisa gadis ini tunjukkan.
***

Satu persatu informasi tentang Abdiel masuk ke otak Abi. Makanan favorit; tempat favorit; warna favorit; Latar belakang pendidikan; prestasi yang kalau ditulis akan menjadi sebuah Curriculum Vitae lengkap. Otak memproses informasi tersebut dan menyimpannya di tempat khusus agar tak terlupakan.
“Sekarang giliranmu,” pinta Abdiel.
“Tanya aku, dan akan kujawab.”
Abdiel menyeringai membuat Abi cemas terlebih ketika lelaki itu berkata. “Baiklah, kamu yang meminta.”
“Abaikan saja! Aku akan bercerita sendiri,” Abi menarik ucapannya.
“Tidak bisa. Hal yang sudah dikatakan tidak bisa ditarik kembali.”
“Hmm ... baiklah! Tapi aku berhak tidak menjawab hal yang tidak ingin kujawab.”
Abdiel mengangguk. Sedang Abi menjadi tegang. Gugup dia menyendok cheesecake yang sejak tadi terabaikan.
“Nama lengkapmu?” tanya Abdiel memulai dengan pertanyaan yang sederhana.
“Abidah Azzahra,” jawab Abi singkat, padat, dan jelas.
“Nama panggilanmu Abi, ‘kan?”
Abi mengangguk.
“Ceritakan padaku profil singkatmu!”
“Itu bukan pertanyaan,” protes Abi.
“Memang. Itu perintah.”
Abi mendesis sebal “Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 23 tahun lalu. Tepatnya 18 Februari 1990.
Ayah dan ibuku dosen Bahasa Indonesia di sebuah kampus negeri di kota asalku. Kakak tertuaku sudah menikah dan memutuskan menjadi penulis agar bisa kerja di rumah sehingga tetap konsentrasi membesarkan anak-anaknya. Adikku masih kelas XI, lelaki yang sangat suka olahraga. Dan aku selepas kuliah masih bertahan di kota pelajar ini sebagai guru honor, juga mengajar bimbel.”
“Mengajar apa?”
“Matematika.”
“Wow, menarik! Aku paling lemah di Matematika. Jadi bisa memperbaiki keturunan,” canda Abdiel.
Abi hanya melengos, “Masih ada pertanyaan?”
“Tentunya,” jawab Abdiel mantap. “Katakan padaku alasanmu ingin menikah diusia 23! Apa kamu tidak berpikir masih muda untuk memikirkan pernikahan?”
Abi menyeringai. Abdiel mengatakan kalimat sensitif. “Apa kamu akan menawarkan pacaran juga sebelum menikah?”
Abdiel tersenyum lembut dan menggeleng. “Aku hanya ingin tahu alasanmu.”
Abi meraih gelas es lemon tea yang tidak dingin lagi. Lalu menyeruputnya. Entah mengapa kerongkongannya mendadak kering melihat senyum Abdiel untuk kesekian kali. Setelah itu memperbaiki posisi duduk sebelum menjawab, “Supaya bisa punya anak minimal 4.”
Abdiel menegakkan punggungnya mendengar jawaban Abi.  Mulutnya sedikit terbuka menyebutkan “ha” tanpa suara. “Itu jumlah minimal yang cukup banyak.”
Abi mengangguk. “Banyak yang mengatakan itu. Tapi, aku terbiasa hidup dengan banyak kerabat. Sepupuku sangat banyak. Nenek dari pihak Bapak punya anak 8. Setiap anak memberikan cucu minimal 2. Nenek dari pihak Bunda lebih banyak lagi. Anak beliau ada 10. Anak pertama memberikan cucu 5 orang. Kedua 4 orang. Ketiga 6 orang. Keempat satu orang. Keenam 2 orang. Ketujuh 5 orang. Kedelapan 3 orang.  Kesembilan 4 orang. Dan kesepuluh 2 orang.”
Abdiel manggut-manggut, takjub. “Keluarga yang sangat besar kalau berkumpul.”
Abi mengangguk lagi, mengiyakan. “ Well, jadi bisa dikatakan pengaruh lingkungan, aku juga ingin punya banyak anak. Sepertinya mengasyikkan saat tua dikelilingi anak dan cucu yang ramai.
Lalu alasan lainnya masih ingin berusia tergolong muda saat anakku remaja. Jadi anakku dan aku bisa ke salon bersama, belanja bersama, dan jalan-jalan bersama. Aku pikir itu seru.”
“Alasan terakhir sederhana sekali,” ucap Abdiel, lalu tergelak pelan.
Abi berdesah. “Mana enak punya anak remaja ketika kita sudah lewat setengah abad.”
“Lalu, pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?” tanya Abdiel mengabaikan sindiran Abi.
Mulut Abi sedikit maju menandakan bahwa dia ragu arah pertanyaan Abdiel. “Acara pernikahan atau rumah tangga harapanku?”
Abdiel menelengkan kepalanya ke kiri. Menatap Abi dalam. Menyelami sesuatu dari kedua mata gadis ini. membuat Abi jengah dan menunduk, berpura-pura sibuk dengan cheesecake dihadapannya.
“Rumah tangga harapanmu.”
Abi mengangkat wajahnya, balas menatap Abdiel mencari keseriusan dari pertanyaan itu. Kemudian duduk tegak ketika mengatakan, “Rumah tangga yang aman dan nyaman bagiku, suamiku, dan anak-anak kami.”
Abdiel berdiam sebentar meresapi jawaban Abi sebelum bertanya lagi, “Apa yang bisa kamu lakukan untuk mewujudkan itu?”
Abi menggedikkan bahu. “Entahlah. Aku belum memikirkan itu terlalu jauh. Tapi, menurutku yang paling utama suamiku dan aku harus punya visi yang sama. Bayangkan saja misalnya suamiku seorang presiden dalam rumah tangga kami, lalu aku wakilnya. Pasti rumah tangga itu tidak akan nyaman jika Presiden dan wakilnya memiliki visi yang berbeda. Akan banyak perbedaan pendapat yang muncul.”
“Jadi, apa visimu?”
Abi memalingkan wajah 45°. Matanya melihat Abdiel seakan mengamati. “Apa aku harus menjawab ini?”
“Menurutmu?” tanya Abdiel balik.
Well,” setelah berpikir beberapa saat Abi buka suara, “visiku menjadi orang yang selalu dirindukan oleh suami dan anak-anakku.”
Abdiel mengernyit.
“Jadi pergi kemana pun mereka dan sejauh apapun itu mereka akan merindukanku yang menunggu sehingga akan selalu ingat pulang.”
Binar bangga terlihat di mata Abdiel. Dalam beberapa hal dia merasa menemukan calon yang tepat. “Itu tidak akan mudah.”
“Tentunya,” sahut Abi. “Lalu kamu, apa misimu?
“Menjadi orang yang selalu merindukanmu,” jawab Abdiel dengan cengiran khasnya.
Hati Abi bergetar lagi. Meskipun mungkin Abdiel bercanda, tapi kalimatnya menyentuh ke dasar kalbu gadis ini. Namun Abi tidak mau Abdiel tahu. Untuk menutupi keanehan itu dia berlagak tak terpengaruh dengan memutar bola mata.
“Apa masih ada yang ingin kamu tanyakan?” tanya Abi sambil berharap dalam hati semoga tidak akan ada pertanyaan lagi.
“Aku rasa untuk sementara, ini sudah cukup.” Abdiel meraih gelas lemon tea Abi dan mengangkatnya. “Senang berkenalan denganmu, Abi.”
Abi tersenyum geli melihat Abdiel mengangkat gelas es lemon tea-nya mengajak salute. Tak ingin kalah aksi dia mengangkat piring cheesecake-nya, “Aku juga.”
***
Bersambung...